Air Waduk Dawuhan Madiun Tinggal 550 Ribu Kubik, Pintu Irigasi Segera Ditutup

Dian Rahayu • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 19:00 WIB
AIR MENYUSUT: Kondisi Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri yang mengalami penyusutan selama musim kemarau. Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban
AIR MENYUSUT: Kondisi Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri yang mengalami penyusutan selama musim kemarau. Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban

Jawa Pos Radar Madiun – Petani di tiga kecamatan yang masih mengandalkan pasokan air Waduk Dawuhan harus bersiap mencari sumber irigasi alternatif.

Volume air waduk di Kecamatan Wonoasri itu terus menyusut dan pintu irigasi direncanakan ditutup akhir September atau awal Oktober.

Petugas Operasi Waduk Dawuhan Agung Wirasat mengatakan, kapasitas maksimal waduk mencapai sekitar 3,9 juta meter kubik.

Namun, per 3 September, air yang tersisa hanya sekitar 550 ribu meter kubik.

‘’Rencananya akhir September atau awal Oktober bakal ditutup,’’ terang Agung, Sabtu (5/9).

Tinggi muka air Waduk Dawuhan saat ini tercatat 78,80 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dengan volume tersisa 550 ribu meter kubik, cadangan air telah berkurang sekitar 85,9 persen dari kapasitas maksimal.

Pengeluaran air untuk irigasi tidak dapat dilakukan hingga waduk benar-benar kosong.

Pengelola menetapkan cadangan minimal sekitar 300 ribu meter kubik untuk kebutuhan pemeliharaan waduk.

“Batas minimal air di waduk itu sisa 300 ribu meter kubik, itu untuk pemeliharaan. Jika sudah mencapai batas tersebut, maka pintu air waduk untuk irigasi akan kami tutup,” ungkapnya.

Penutupan pintu irigasi Waduk Dawuhan bakal berdampak pada lahan pertanian di 10 desa yang tersebar di Kecamatan Wonoasri, Madiun, dan Balerejo.

Total area pertanian yang selama ini mendapat suplai air mencapai 1.273 hektare.

Keterbatasan pasokan sebenarnya telah diantisipasi sejak awal musim kemarau.

Pengelola waduk telah meminta petani memilih tanaman yang membutuhkan air lebih sedikit pada musim tanam ketiga (MT 3).

“Untuk lahan pertanian yang bergantung ke waduk sudah kami sosialisasikan sejak awal musim kemarau dengan imbauan agar menanam palawija untuk MT 3 sebab air mulai terbatas dan tidak cukup untuk padi,” jelas Agung.

Namun, menurut dia, sebagian besar petani di tiga kecamatan tersebut tetap memilih menanam padi.

Air dari Waduk Dawuhan rata-rata hanya mampu menopang kebutuhan irigasi tanaman hingga usia sekitar 30 hari.

Setelah itu, petani harus memanfaatkan air tanah menggunakan pompa hingga memasuki masa panen.

“Jadi mulai bulan depan petani sudah beralih ke pompa air sumur, biasanya itu di desa-desa hilir kalau desa hulu ini paling di dekat hutan itu aman tidak ada tanaman,” tandasnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
pintu irigasi Waduk Dawuhan waduk dawuhan musim kemarau petani kabupaten madiun madiun