Jawa Pos Radar Madiun – Menyusutnya volume air Waduk Dawuhan dimanfaatkan sebagian warga untuk membuka lahan pertanian. Sekitar 30 persen area genangan yang kini tidak terendam disebut telah digunakan untuk bercocok tanam meski pengelola berulang kali memberikan larangan.
Aktivitas pertanian tersebut dikhawatirkan mempercepat sedimentasi Waduk Dawuhan. Jika terus terjadi, endapan secara bertahap berpotensi mengurangi kapasitas tampung waduk yang saat penuh mencapai sekitar 3,9 juta meter kubik.
Petugas Operasi Waduk Dawuhan Agung Wirasat mengatakan, pengelola telah berulang kali melakukan sosialisasi agar warga tidak mengolah area genangan. Plang peringatan juga telah dipasang di sejumlah titik.
“Kalau untuk pihak bendungan, kami tetap sosialisasi. Kami sampaikan sebenarnya area tidak boleh untuk ditanam. Pun telah dipasang plang-plang peringatan juga namun justru dirusak atau dihilangkan,” katanya, Minggu (6/9).
Menurut Agung, pengolahan tanah untuk pertanian membuat struktur permukaan yang semula padat menjadi lebih gembur. Ketika musim hujan tiba, material tanah tersebut lebih mudah tergerus dan terbawa limpasan air menuju waduk.
Tak hanya material tanah, penggunaan pupuk maupun bahan kimia pertanian juga berpotensi ikut terbawa ke area genangan.
“Itu sedimen. Karena lahannya diolah, harusnya tanahnya padat jadi gembur, terus terkena pupuk, terkena kimia. Setiap musim hujan akhirnya masuk ke area genangan,” ujarnya.
Sedimentasi Waduk Dawuhan yang terus bertambah berpotensi mempersempit ruang tampung air. Artinya, kapasitas waduk sekitar 3,9 juta meter kubik dapat terus berkurang apabila endapan tidak dikendalikan.
“Kapasitas iya, karena pengaruh sedimen itu. Akhirnya pengerukan juga membutuhkan biaya yang lumayan,” jelas Agung.
Pengelola tidak melakukan pengerukan Waduk Dawuhan setiap tahun. Menurut Agung, pengajuan pengerukan rata-rata dilakukan sekitar lima tahun sekali, terutama ketika sedimentasi telah menyebabkan kehilangan kedalaman tampungan sekitar satu meter.
Aktivitas pertanian di area genangan sebenarnya disebut sudah berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, kawasan tersebut hingga kini belum sepenuhnya terbebas dari aktivitas bercocok tanam.
“Dulu hampir semua ditanami, bahkan sampai dekat tubuh bendungan. Sekarang semakin berkurang, cuma tidak 100 persen,” pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto