Jawa Pos Radar Madiun – Sekitar 300 sumur air tanah milik pemerintah belum mampu menopang kebutuhan irigasi hampir 30 ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Madiun.
Pemkab tahun ini menambah enam sumur baru, tetapi petani tetap tidak bisa sepenuhnya bergantung pada sumber air tersebut.
Ratusan sumur air tanah itu tersebar di 15 kecamatan. Keberadaannya menjadi salah satu sumber pendukung irigasi, terutama ketika ketersediaan air permukaan berkurang.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kabupaten Madiun Vindha Bagus Devianto mengakui jumlah sumur pemerintah masih terbatas dibandingkan luas lahan pertanian yang harus mendapatkan pasokan air.
’’Kalau mencukupi seluruh sawah, sumur PU jelas tidak cukup dengan luas pertanian Kabupaten Madiun yang hampir 30 ribu hektare,’’ ujar Vindha, Kamis (10/9).
Tahun ini, DPUPR Kabupaten Madiun berencana membangun enam sumur air tanah baru.
Tambahan tersebut bakal memperkuat suplai irigasi, meski belum banyak mengubah kemampuan penyediaan air secara keseluruhan.
Terlebih, debit setiap sumur tidak sama. Kapasitasnya berkisar 7 liter, 10 liter hingga 25 liter per detik bergantung pada pompa serta karakteristik sumber air di masing-masing lokasi.
’’Tergantung pada kemampuan pompa dan kondisi masing-masing lokasi,’’ katanya.
Keterbatasan tersebut menjadi tantangan terutama ketika petani tetap menanam padi pada musim tanam ketiga (MT III).
Sebab, kebutuhan air tanaman padi relatif besar ketika ketersediaan air semakin terbatas pada musim tersebut.
DPUPR sebelumnya menetapkan pola tanam padi-padi-palawija berdasarkan perhitungan debit andalan dan kebutuhan air. Pola tersebut diharapkan dapat menekan risiko kekurangan air irigasi.
Jika petani tetap memilih padi pada MT III, pasokan dari sumur pemerintah perlu dikombinasikan dengan sumber air lain, termasuk sumur pribadi milik petani.
’’Kalau ditanami padi semua, harus ada pengkolaborasian dengan sumur pribadi petani. Kalau hanya sumur PU, tidak akan mencukupi,’’ jelas Vindha.
Selain optimalisasi sumur air tanah, DPUPR Kabupaten Madiun berkoordinasi dengan BBWS Bengawan Solo terkait pengoperasian waduk dan normalisasi embung.
Salah satunya Embung Kresek yang ditargetkan menjalani normalisasi tahun ini.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian, terutama ketika memasuki periode dengan debit air terbatas.
’’Kami sudah mengantisipasi melalui rencana tata tanam, pengoperasian waduk dan optimalisasi sumur air tanah,’’ tandasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto