Jawa Pos Radar Madiun – Upaya memperluas akses pelayanan kesehatan mata di Kabupaten Madiun mulai menunjukkan perkembangan. Sebanyak sembilan desa telah terbentuk sebagai Desa Sehat Mata (Desmat).
Dari jumlah tersebut, empat desa bahkan telah mengalokasikan anggaran khusus kesehatan mata melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk mendukung keberlanjutan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun dr Heri Setyana mengatakan, pembentukan Desa Sehat Mata merupakan bagian dari pelaksanaan program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) yang kini memasuki tahun ketiga.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan mata sekaligus memperluas akses pelayanan kesehatan yang inklusif.
Menurut Heri, keberadaan Desmat diharapkan tidak hanya bergantung pada pendampingan program. Pemerintah desa dan masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.
"Kami ingin agar program yang telah dirintis ini tetap berlanjut dan tidak berhenti saat masa pendampingan usai," ungkapnya saat membuka Pertemuan Lintas Sektor (Stakeholder) Program I-SEE, Kamis (24/9).
Heri menjelaskan, empat desa yang telah memasukkan dukungan kesehatan mata dalam APBDes menunjukkan adanya komitmen pemerintah desa untuk menjaga keberlanjutan program.
Pengalokasian anggaran tersebut diharapkan dapat mendukung berbagai kegiatan pelayanan kesehatan mata sesuai kebutuhan masyarakat di masing-masing desa.
Selain itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pelayanan kesehatan mata berbasis masyarakat yang dapat menjangkau lebih banyak warga.
"Selama ada niat dan kemauan, pasti ada banyak jalan. Namun jika tidak ada kemauan, pasti ada banyak alasan. Apa yang sudah kita capai jangan sampai surut, minimal harus kita pertahankan dan tingkatkan demi masyarakat Madiun," tegasnya.
Di sisi lain, pelaksanaan program I-SEE selama hampir tiga tahun telah menghasilkan sejumlah capaian dalam penguatan pelayanan kesehatan mata di Kabupaten Madiun.
Salah satunya melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di 26 puskesmas. Penguatan kemampuan juga diberikan kepada guru, kader kesehatan, hingga insan media.
Selain itu, pelatihan Disability Inclusive Development (DID) dilakukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai komunikasi dan akses pelayanan kesehatan bagi penyandang disabilitas.
Program I-SEE juga menyasar masyarakat secara langsung melalui berbagai kegiatan pelayanan kesehatan mata.
Di antaranya, skrining kesehatan mata, pemberian kacamata gratis, penyediaan alat bantu pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan, serta fasilitasi rujukan medis bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Heri berharap berbagai capaian tersebut dapat terus dikembangkan melalui dukungan pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
"Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem layanan mata yang lebih inklusif dan mudah diakses," imbuhnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto