Jawa Pos Radar Madiun – Stigma kelam Peristiwa Madiun 1948 terus diluruskan oleh Pemkab Madiun.
Momentum Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dipusatkan di Monumen Kresek, Desa Kresek, Kecamatan Wungu, pada Kamis (1/10) dimanfaatkan untuk menegaskan narasi sejarah bahwa masyarakat Madiun merupakan korban kekejaman konflik tersebut, bukan bagian dari pemberontak.
Bupati Madiun Hari Wuryanto menegaskan, pemahaman sejarah yang utuh dan presisi sangat vital untuk diwariskan kepada generasi penerus.
Terlebih, pelabelan keliru yang mengidentikkan Madiun dengan basis PKI masih sesekali mencuat di publik.
"Kita semua memiliki kewajiban menjaga tegaknya Pancasila. Di sisi lain, kami ingin meluruskan fakta sejarah bahwa masyarakat Madiun bukanlah pemberontak, melainkan korban dari kekejaman PKI kala itu," tegas Hari.
Hari mengungkapkan, warga Madiun pada masa itu turut menjadi korban kekerasan lantaran secara tegas menolak paham komunisme.
Oleh sebab itu, pemkab gencar menanamkan literasi sejarah lokal kepada kalangan pelajar melalui pelbagai program penguatan wawasan kebangsaan.
" Insya Allah, generasi muda kita ke depan akan selalu sigap menjaga Pancasila sebagai ideologi tunggal bangsa," ujarnya.
Upacara bertajuk Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur tersebut diikuti jajaran jajaran pemkab, Forkopimda, personel TNI-Polri, elemen mahasiswa, pelajar, hingga perwakilan perguruan pencak silat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun Agus Sucipto menambahkan, keberadaan Monumen Kresek menjadi laboratorium visual sejarah yang sangat efektif bagi generasi muda.
"Kegiatan peringatan ini menjadi sarana refleksi sekaligus pengenalan sejarah bagi masyarakat dan pelajar. Harapannya, nilai-nilai tersebut terkonversi dalam pendidikan karakter dan kebangsaan," kata Agus.
Menurut Agus, generasi muda harus memperoleh rujukan sejarah dari sumber yang valid dan teruji agar tidak mudah terombang-ambing oleh simpang siur informasi yang belum jelas kebenarannya.
Peringatan tersebut turut disemarakkan dengan pertunjukan seni bela diri. Keterlibatan perguruan silat tersebut disengaja guna memperkuat identitas budaya Madiun sebagai Kampung Pesilat Indonesia.
"Harapan kami, pencak silat ke depan benar-benar dihayati sebagai warisan budaya luhur, bukan sekadar ajang hura-hura," pungkasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto