Air Waduk Dawuhan Madiun Menyusut, Pintu Irigasi Pertanian Ditutup

Dian Rahayu • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 13:40 WIB
MENYUSUT: Volume air Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri telah mencapai batas minimum. DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN
MENYUSUT: Volume air Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri telah mencapai batas minimum. DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN

Jawa Pos Radar Madiun – Volume air Waduk Dawuhan di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, terus menyusut selama musim kemarau. Elevasi muka air telah mencapai batas minimal operasional dengan volume tersisa sekitar 300 ribu meter kubik.

Kondisi tersebut membuat pengelola Waduk Dawuhan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo menutup pintu intake saluran irigasi sejak 15 September lalu.

Petugas Operasi Waduk Dawuhan Agung Wirasat mengatakan, berdasarkan pemantauan terakhir, tinggi muka air (TMA) waduk berada di level 77,50 meter di atas permukaan laut (mdpl).

’’Untuk kondisi sekarang, pintu intake ada penutupan karena sudah di batas minimal. Sekarang TMA-nya 77,50 mdpl, volumenya sekitar 300.000 meter kubik,’’ katanya, Senin (5/10).

Penutupan pintu intake berdampak langsung terhadap suplai air irigasi bagi lahan pertanian yang selama ini mengandalkan Waduk Dawuhan.

Agung menyebut cakupan layanan irigasi waduk mencapai sekitar 1.273 hektare lahan pertanian. Areal tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni Wonoasri, Balerejo, dan Madiun.

Dengan suplai dari waduk terhenti, petani kini mengandalkan sumber air alternatif untuk mempertahankan lahan pertanian mereka.

’’Yang pasti untuk air irigasi berhenti. Jadi warga atau petani sekarang memakai sible atau sumur, sumur pompa,’’ ujarnya.

Meski pintu intake ditutup, aktivitas operasional Waduk Dawuhan tetap berjalan. Petugas rutin memantau dan mencatat TMA, membaca instrumen, serta melakukan pemeliharaan tubuh bendungan.

’’Untuk sekarang aktivitas operasional tetap pencatatan rutin TMA, pembacaan TMA, kemudian pembacaan instrumentasi, sama pemeliharaan tubuh bendungan, seperti pembersihan rumput dan sebagainya,’’ jelasnya.

Belum ada rencana membuka kembali saluran irigasi dalam waktu dekat. Pengoperasian intake diperkirakan baru dilakukan setelah memasuki musim hujan.

Menurut Agung, operasional biasanya kembali berjalan sekitar Desember hingga Januari. Periode tersebut bertepatan dengan persiapan musim tanam pertama (MT 1) sekaligus pengaturan operasi banjir.

’’Kalau untuk operasional nanti menunggu biasanya musim hujan, di antara Desember sampai Januari, untuk MT 1 sama untuk operasi banjir nanti,’’ pungkasnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
pertanian waduk dawuhan Kabupaten Madiun kekeringan irigasi