NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Lonjakan Covid-19 varian Delta rentang Juni-Agustus lalu menjadi pelajaran untuk tidak menyepelekan potensi munculnya gelombang ketiga di Ngawi. Apalagi, telah ditemukannya varian Omicron di Jakarta kemarin (16/12). ‘’Kepekaan mendiagnosis hasil skrining sangat penting untuk menekan risiko persebaran varian Omicron,’’ kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Labkesda Ngawi Sutarto, Kamis (17/12).
Sebagaimana diketahui, Omicron lebih rentan menyebar dibanding varian Covid-19 lain. Saat ini, kewaspadaan bukan hanya mengarah pada warga yang baru pulang dari luar negeri. Pasien positif korona yang mempunyai cycle threshold (CT) di bawah 25 juga patut diwaspadai.
Labkesda bakal langsung mengirim hasil tes polymerase chain reaction (PCR) jika mendapati angka CT di bawah 25. Pengiriman ditujukan ke laboratorium yang punya kompetensi melakukan whole genome sequencing. Salah satunya Laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3) milik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. ‘’Kami belum bisa melakukan whole genome sequencing,’’ kata Sutarto.
Labkesda Ngawi setiap hari menguji sekitar 50-60 hasil PCR. Hanya satu atau dua yang menunjukkan hasil positif. Rata-rata angka CT-nya di atas 30. ‘’Sehingga masih aman dari varian baru yang punya ciri-ciri CT di bawah 30. Perlu diketahui, CT di atas 30 itu menandakan virusnya sudah melemah,’’ jelasnya.
Meski masih aman, Sutarto enggan sesumbar. Pihaknya bahkan telah menyiapkan tujuh ribu kit reagen PCR untuk menyambut momen Natal dan tahun baru nanti. Pasalnya, mobilitas masyarakat diprediksi bakal meningkat signifikan. ‘’Seperti pengalaman sebelumnya, orang tanpa gejala justru lebih menakutkan. Meski tampak sehat, tapi sebenarnya pembawa virus,’’ ungkapnya. (sae/c1/naz/her)
Editor : Hengky Ristanto