BLITAR, Jawa Pos Radar Madiun – Menjadi dokter tidaklah mudah. Perlu kedisiplinan, kesabaran dan komitmen yang kuat.
Namun itu tidak menyurutkan niat Rusydina Fillah Amanda. Perempuan yang lebih dikenal dengan Cinta Amanda itu sudah terlanjur cinta mati dengan profesi dokter.
Warga Kecamatan Kademangan ini tercatat sebagai salah satu dokter muda di wilayah Kabupaten Blitar.
Dilansir dari Radar Tulungagung (Jawa Pos Group), menjadi dokter memang bukan keinginan mutlak Cinta, panggilan akrab Cinta Amanda. Sejak kecil, dia lebih dulu tertarik menjadi pramugari.
Lantaran sering diajak sang ayah terlibat langsung dalam sejumlah komunikasi antar dokter, timbul keinginannya untuk serius di dunia kedokteran.
Perjalanannya menjadi dokter berawal dari SMA. Program akselerasi yang dia ikuti, membuatnya menempuh jenjang SMA hanya dalam dua tahun.
Setelah lulus, perempuan bertubuh jenjang ini melanjutkan pendidikan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, mengambil program studi kedokteran. Dia pun lulus pada 2020 lalu.
Kini Cinta tergabung dalam organisasi profesi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Blitar dan buka praktik mandiri.
“Karena sebagai dokter kadang bersinggungan dengan pemerintahan, dari situ saya tahu masalah dokter tidak hanya pasien. Tapi secara struktural dan manajerial. Saya pikir, menjadi dokter masih bisa menyalurkan potensi saya yang lain,” ujar perempuan 27 tahun ini, seperti dilansir dari Radar Tulungagung (Jawa Pos Group).
Anak pertama dari dua bersaudara ini menilai, kemajuan zaman membuat pola pikir dan karakter pasien berubah. Hal ini membuatnya harus cepat beradaptasi dengan kebutuhan pasien.
Caranya, lebih memahami keluhan, melalui pendekatan persuasif. Hal ini agar pasien lebih terbuka dengan persoalan kesehatan yang dialami.
Tak mudah memang, namun telaten jadi salah satu kuncinya. Selain itu, ilmu manajerial dan public speaking begitu penting baginya.
Itu sebabnya, perempuan kelahiran Surabaya, 1996 ini turut menggali potensi di bidang komunikasi, model, pembawa acara, maupun master of ceremony (MC) di berbagai kesempatan.
Dirinya pun mengaku, lebih mudah mengajak pasien berkomunikasi, meluapkan segala masalah kesehatan.
“Dari dokternya sendiri harus mau membuka diri. Tidak bisa hanya omong sedikit. Karena kadang pasien sekarang minta lebih diperhatikan, ingin didengar, diayomi, kita harus asah skill komunikasi,” tutur perempuan yang hobi berkuda ini.
Berkat kemampuan plus ketelatenan dan kesabaran yang dimilikinya, tidak heran jika sejumlah pasien pun kesemsem pada Cinta. Tak sedikit yang akhirnya terbuka dan nyaman menceritakan keluhan yang dialaminya.
Ia memiliki pengalaman mengharukan saat masih mahasiswi dengan status dokter magang pada salah satu rumah sakit di Solo.
Cinta terlibat dalam proses persalinan seorang ibu hamil yang mengalami gangguan jiwa atau istilahnya ODGJ.
Ketika itu, dia bertugas membujuk keluarga pasien datang ke rumah sakit. Keluarga pasien yang kurang edukasi, membuat suasana tegang lantaran enggan menerima tindakan operasi.
Namun, melalui pemahaman yang dia berikan, akhirnya dirinya berhasil membawa keluarga pasien ke rumah sakit.
Keadaan pasien saat itu kritis. Bukan hanya akibat riwayat gangguan jiwa, namun turut dipicu persoalan pribadi lain yang dihadapi pasien.
Atas persetujuan keluarga, tim dokter akhirnya menempuh tindakan operasi. Bayi lahir dengan selamat, sementara sang ibu sempat dirawat di instalasi gawat darurat (IGD).
“Harusnya kalau ODGJ sebisa mungkin jangan hamil. Karena kasian saat merawat anaknya. Kalau masih punya keluarga masih bisa dirawat keluarga, tapi kalau tidak ya kasihan,” kenangnya.
Nah, selama manjadi dokter, bukan hanya ilmu komunikasi dan pendekatan saja yang perlu dikuasai. Melainkan, kemampuan manajemen waktu, dan mengambil keputusan cepat serta tepat.
Dia mengaku, saat ini terus berbenah demi meningkatkan kapasitas sebagai seorang dokter. Sehingga, manfaatnya bisa dirasakan pasien.
“Ini juga berkat dukungan dari keluarga, utamanya orang tua,” sambungnya.
Pada peringatan Hari Dokter Nasional hari ini, Selasa (24/10), dia berharap dunia kedokteran terus maju. Menjadi garda terdepan dalam melayani kesehatan masyarakat. Dia juga berpesan agar masyarakat bisa cepat tanggap bilamana mengalami masalah kesehatan.
“Peran dokter sangat penting di bidang kesehatan. Saya yakin, para dokter saat ini terus berjuang menciptakan masyarakat yang cerdas,” tandasnya. (*/sub/sib)
Editor : Budhi Prasetya