Jawa Pos Radar Madiun - Tidur yang berkualitas begitu didambakan oleh banyak orang. Termasuk bagi warga Madiun Raya yang sehari-hari lelah bekerja.
Namun, tak semua bisa tidur dengan nyenyak. Ada di antara kita yang mengalami sleep apnea atau gangguan tidur.
Rupanya, masalah gangguan tidur ini bisa menjadi serius bila tak ditanggulangi.
Mengutip dari ANTARA, studi baru menemukan bahwa diet nabati manjur dalam mengurangi risiko sleep apnea. Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal ERJ Open Research.
Disebutkan, orang yang menerapkan diet nabati dan mengonsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan bisa lebih terhindar dari gangguan tidur.
Bahkan, tingkat risikonya tinggal 19 persen.
"Hasil ini menyoroti pentingnya kualitas diet kita dalam mengelola risiko OSA (obstructive sleep apnea)," kata peneliti utama Yohannes Melaku, dikutip dari ANTARA, Jumat (23/2).
Sleep apnea menyebabkan gangguan pernapasan yang sering selama tidur.
Gejala yang timbul tak hanya mendengkur, namun juga kelelahan, kantuk siang hari, mudah tersinggung, dan kadang-kadang, insomnia.
Lebih dari 30 juta orang dewasa di Amerika Serikat menderita sleep apnea.
Ada dua jenis sleep apnea, yaitu central sleep apnea (CSA) yang timbul dari masalah dalam regulasi pernapasan oleh otak selama tidur, dan obstructive sleep apnea (OSA).
OSA disebabkan oleh kondisi yang menghalangi aliran udara melalui saluran udara atas selama tidur.
"Faktor risiko untuk obstructive sleep apnea mungkin berasal dari genetika atau perilaku, termasuk diet," ujarnya.
"Dengan studi ini, kami ingin mengisi kesenjangan tersebut dan mengeksplorasi hubungan antara jenis diet nabati yang berbeda dan risiko OSA," katanya.
Studi ini didasarkan pada data dari lebih dari 14.000 individu yang merupakan bagian dari Survei Kesehatan dan Nutrisi Nasional Amerika Serikat.
Para peneliti mengkaji diet para partisipan, dan berdasarkan apa yang mereka makan selama 24 jam terakhir.
Para peserta juga ditanyai apakah mereka mengalami obstructive sleep apnea.
"Orang-orang dengan diet yang paling tinggi kandungan makanan nabati cenderung memiliki risiko 19 persen lebih rendah untuk menderita OSA," ujarnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani