Jawa Pos Radar Madiun - Penelitian terbaru mengungkap bahwa semakin lama anak-anak menghabiskan waktu di depan layar, semakin besar resiko mereka mengalami masalah sosial dan emosional seperti cemas, depresi, hiperaktif, dan perilaku agresif.
Hasil ini berasal dari meta-analisis terhadap 117 studi yang meneliti anak-anak di bawah usia 10,5 tahun.
Meskipun dampaknya tergolong kecil, efek negatif waktu layar tetap signifikan, terutama pada anak perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa resiko meningkat jika:
1. Anak di bawah usia 2 tahun diberi akses layar (selain video call),
2. Anak usia 2–5 tahun menggunakan layar lebih dari 1 jam per hari,
3. Anak usia di atas 6 tahun menghabiskan lebih dari 2 jam per hari di depan layar.
Memberi anak layar agar diam sementara memang praktis, tapi itu membuat anak tidak belajar cara mengatur emosi mereka sendiri.
2. Waspadai Anak yang Menggunakan Layar Saat Emosional
Jika anak cenderung beralih ke layar saat sedang sedih atau marah, itu bisa jadi tanda mereka butuh dukungan emosional. Ajak bicara dan dengarkan mereka.
3. Batasi Game Online dengan Tegas
Tetapkan batas waktu yang jelas untuk bermain game. Game online bisa membuat anak kecanduan dan mengabaikan tanggung jawab penting lainnya.
Manfaatkan fitur pengaturan di perangkat digital untuk mengatur durasindan memblokir konten yang tidak sesuai usia.
5. Berani Bilang “Tidak”
Terkadang orang tua takut dianggap tidak adil. Padahal, mengatakan "tidak" untuk kebaikan anak adalah bentuk pengasuhan yang sehat. Ingat, kesehatan mental anak lebih penting daripada kenyamanan sesaat.
6. Tidak Perlu Selalu Sama untuk Semua Anak
Anak-anak tidak harus mendapatkan akses teknologi di usia yang sama dengan saudara mereka. Jelaskan bahwa sekarang kamu lebih tahu dan punya alasan kuat berdasarkan data.
Jika kamu membatasi akses ke ponsel atau game, gantikan dengan aktivitas menyenangkan seperti kemah keluarga, menginap bersama teman, atau hadiah kecil sebagai motivasi.
Waktu layar yang berlebihan bisa menjadi penyebab dan gejala gangguan emosional pada anak-anak.
Penting bagi orang tua untuk lebih sadar akan pengaruh teknologi dan membatasi penggunaan layar dengan bijak.
Jangan ragu untuk mengatakan "tidak", karena keputusan sulit hari ini bisa menghasilkan kesehatan mental yang lebih baik bagi anak di masa depan.
(*/naz)
Penulis: Oktaviani Dwi Ramadhani/Politeknik Negeri Madiun
Editor : Mizan Ahsani