Jawa Pos Radar Madiun - Aktivitas healing ke alam terbuka kini menjadi pilihan banyak orang untuk melepas penat.
Mendaki gunung, berkemah di hutan, hingga bermain air di air terjun menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di perkotaan.
Namun di balik suasana yang tampak damai, alam menyimpan risiko yang kerap luput dari perhatian, salah satunya gigitan ular berbisa.
Pertemuan manusia dengan ular semakin sering terjadi seiring meningkatnya aktivitas wisata alam.
Habitat yang terganggu membuat ular lebih mudah muncul di jalur pendakian, area camping, hingga lokasi wisata alam.
Dalam kondisi tertentu, gigitan ular dapat berujung fatal jika korban tidak mendapatkan pertolongan yang tepat dan cepat.
Tidak semua ular berbisa, tetapi dalam situasi darurat, sangat sulit membedakan jenis ular yang menggigit.
Kesalahan penanganan justru bisa mempercepat penyebaran racun ke seluruh tubuh.
Ular berbisa dikelompokkan berdasarkan jenis racun dan mekanisme serangannya, yang menentukan seberapa cepat dan berat dampaknya terhadap tubuh manusia.
Jenis Ular Berbisa Berdasarkan Racunnya
1. Kelompok Elapidae (Kobra dan Kerabatnya)
Ular dari keluarga ini, seperti kobra, weling, ular karang, hingga ular laut, memiliki racun neurotoksik yang menyerang sistem saraf.
Racun bekerja cepat, menyebabkan kelumpuhan otot, gangguan pernapasan, hingga kegagalan jantung. Meski taringnya relatif pendek, racunnya sangat mematikan.
2. Kelompok Viperidae (Ular Berbisa Bertaring Panjang)
Termasuk di dalamnya pit viper seperti ular derik dan sejenisnya. Ular ini memiliki taring panjang berongga yang dapat menyuntikkan racun dalam jumlah besar.
Racunnya bersifat hemotoksik, merusak jaringan, pembuluh darah, dan mengganggu proses pembekuan darah.
Tanda dan Gejala Gigitan Ular Berbisa
Gigitan ular sering meninggalkan dua bekas tusukan di kulit, disertai nyeri dan pembengkakan.
Namun pada kasus tertentu, rasa sakit tidak langsung muncul. Inilah yang sering menipu korban.
Saat gigitan terjadi, kepanikan sering membuat korban bergerak berlebihan. Padahal, gerakan justru mempercepat penyebaran racun.
Melansir Hello Sehat dan Halodoc, berikut langkah pertolongan pertama yang disarankan:
1. Tetap Tenang dan Kurangi Gerakan
Korban harus segera beristirahat dan menghentikan aktivitas. Semakin sedikit bergerak, semakin lambat racun menyebar melalui aliran darah dan limfatik.
2. Posisikan Area Gigitan Lebih Rendah dari Jantung
Posisi ini membantu memperlambat perjalanan racun menuju organ vital seperti jantung dan paru-paru.
3. Lepaskan Benda yang Mengikat
Jam tangan, cincin, atau pakaian ketat di sekitar area gigitan harus segera dilepas sebelum pembengkakan terjadi.
4. Tekanan Ringan di Area Gigitan
Gunakan perban atau kain untuk memberi tekanan ringan di sekitar luka. Tujuannya bukan menghentikan aliran darah, melainkan memperlambat penyebaran racun.
5. Hindari Tindakan Berbahaya
Jangan menyedot racun, mengiris luka, memberi es, alkohol, atau obat tanpa anjuran medis.
Cara-cara ini tidak terbukti efektif dan justru berisiko memperburuk kondisi. (cor)
Editor : Andi Chorniawan