Jawa Pos Radar Lawu - Gula kerap mendapat citra negatif dalam dunia kesehatan.
Namun, ahli gizi Athena Connell menyampaikan pandangan berbeda.
Ia menilai gula tetap memiliki peran penting bagi tubuh, terutama dalam mendukung energi dan proses biologis, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan kulit.
Dalam laporan Hindustan Times, Athena menyebut bahwa gula tidak seharusnya sepenuhnya dianggap sebagai penyebab berbagai penyakit.
Menurutnya, tubuh—terutama pada wanita—membutuhkan energi yang cukup untuk menjaga fungsi metabolisme, stabilitas hormon, hingga proses regenerasi sel.
“Gula selalu digambarkan sebagai akar penyebab penyakit. Tetapi menurut saya, anti-gula adalah anti-kehidupan, terutama pada tubuh wanita, pada mereka yang ingin subur, tenang, sehat, dan cantik,” ujarnya.
Baca Juga: Serapan Anggaran Belum Maksimal, Komisi III DPRD Kota Madiun Evaluasi Kinerja OPD
Athena juga menyoroti tren kesehatan dan kecantikan yang menekankan pembatasan gula sekaligus konsumsi kolagen.
Ia menilai pendekatan tersebut tidak sesederhana yang sering dipromosikan.
Menurutnya, kolagen bukan zat yang langsung bekerja hanya dengan dikonsumsi.
Tubuh tetap harus memproduksi kolagen secara alami melalui proses biologis yang memerlukan energi.
“Kolagen bukanlah sesuatu yang Anda ‘tambahkan’ dengan menambahkannya ke kopi anda. Ini adalah sesuatu yang dibutuhkan tubuh anda untuk terus mensintesisnya dari bahan baku. Untuk melakukan ini, tubuh membutuhkan ATP (energi),” jelasnya.
Baca Juga: Spesifikasi Vespa Sprint Tech 2026, Skutik Modern Berfitur Lengkap
Ia menambahkan, glukosa sebagai bentuk gula sederhana merupakan sumber energi utama bagi tubuh, termasuk otak.
Kekurangan asupan energi, lanjutnya, dapat memengaruhi fokus, suasana hati, hingga mengganggu proses metabolisme yang mendukung kesehatan jaringan.
Dalam kondisi kekurangan energi, tubuh bisa beralih menggunakan hormon stres untuk mempertahankan fungsi dasar.
Baca Juga: Resep Risol Matcha Viral Renyah dan Creamy, Rasanya Meleleh!
Hal ini dinilai dapat menghambat proses perbaikan sel, termasuk produksi kolagen.
Athena juga menyebut bahwa diet rendah gula dalam jangka panjang berpotensi mendorong tubuh ke kondisi katabolik, yaitu ketika tubuh memecah jaringan sendiri untuk dijadikan sumber energi.
Meski demikian, sejumlah ahli menekankan bahwa kebutuhan energi tidak harus dipenuhi dari gula tambahan.
Baca Juga: Desa Tugu Selatan, Kampung Koboi Bogor Jadi Motor Ekonomi Wisata dan UMKM
Tubuh dapat memperoleh glukosa dari berbagai sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, kentang, dan buah-buahan.
Di sisi lain, konsumsi gula berlebih justru dikaitkan dengan proses glikasi yang dapat merusak kolagen dan mempercepat penuaan kulit.
Karena itu, keseimbangan tetap menjadi kunci dalam menjaga kesehatan tubuh dan kulit.
Kesehatan kulit sendiri tidak hanya bergantung pada asupan kolagen atau gula semata, tetapi juga dipengaruhi oleh kecukupan protein, vitamin, serta kondisi metabolisme secara keseluruhan.
Dengan demikian, gula tetap memiliki fungsi penting sebagai sumber energi.
Namun, konsumsi yang bijak dan pola makan seimbang menjadi faktor utama dalam mendukung kesehatan dan kecantikan secara menyeluruh.
Editor : Nur Wachid