Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Remaja Mengalami Mood Swing Parah? Ternyata Nutrisi Buruk Bisa Jadi Biang Keroknya

Suci Oktavia • Selasa, 14 April 2026 | 10:25 WIB
Ilustrasi perempuan mengalami mood swing. (THRIVE GLOBAL)
Ilustrasi perempuan mengalami mood swing. (THRIVE GLOBAL)

Jawa Pos Radar Madiun - Masa remaja sering kali diwarnai dengan perubahan suasana hati yang fluktuatif. Namun, ketika iritabilitas atau sifat mudah tersinggung menjadi sangat parah, penyebabnya mungkin bukan hanya soal hormon atau tekanan sosial.

Sebuah uji klinis terbaru dari Selandia Baru mengungkapkan fakta mengejutkan: nutrisi buruk memiliki kaitan erat dengan disregulasi suasana hati yang parah pada remaja.

Penelitian ini menyoroti bahwa kekurangan mikronutrien (vitamin dan mineral) dapat memperburuk kondisi emosional anak di masa pertumbuhan.

Hubungan Mikronutrien dan Kesehatan Mental

Pemimpin penelitian sekaligus psikolog klinis dari Universitas Canterbury, Julia Rucklidge, Ph.D., melakukan uji coba terhadap 132 remaja berusia 12-17 tahun yang mengalami iritabilitas tingkat sedang hingga berat.

Beberapa di antaranya didiagnosis menderita Disruptive Mood Dysregulation Disorder (DMDD).

Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa pemberian mikronutrien dosis tertentu membantu memperbaiki temperamen dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Menariknya, Rucklidge menjelaskan bahwa kondisi ini tidak selalu berarti anak tersebut kekurangan gizi secara klinis, melainkan tubuh mereka membutuhkan dukungan nutrisi yang lebih tinggi dari rata-rata.

“Jika saya stres atau sedang sakit, kebutuhan nutrisi saya akan lebih tinggi karena sistem imun dan saraf perlu didukung lebih kuat,” jelas Rucklidge.

Baca Juga: Jangan Asal Cuci Muka! Ini Alasan Kulit Bersih Maksimal Bikin Wajah Awet Muda

Mengapa Remaja Sangat Rentan?

Masa remaja adalah periode di mana otak sedang mengalami "rekonstruksi" besar-besaran. Ada beberapa alasan mengapa asupan makanan sangat krusial di fase ini:

Penelitian ini juga menemukan fakta menyedihkan bahwa malnutrisi dini yang terjadi sejak masa kanak-kanak memiliki efek kritis saat seseorang memasuki usia remaja.

Kurangnya dukungan nutrisi saat otak sedang berubah dapat mendatangkan "kesengsaraan" emosional yang panjang.

Meskipun hasil studi menunjukkan perbaikan pada kelompok yang diberi suplemen, Rucklidge menegaskan bahwa suplemen bukanlah obat mujarab yang bisa dikonsumsi sembarangan tanpa pengawasan.

Laporan ini menjadi peringatan bagi para orang tua bahwa lingkungan makanan sangat berpengaruh pada pertumbuhan otak. Alih-alih hanya berfokus pada perilaku, memperbaiki pola makan dengan gizi seimbang bisa menjadi langkah awal yang efektif untuk menjaga stabilitas mental remaja. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#mood swing #suasana hati #penyebab #remaja