Kaitan Erat Otak dan Usus: Mengapa Stres Bisa Membuat Pencernaan Anda Kacau?

Yunita Tri Desianti • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 07:52 WIB
Ilustrasi sakit perut. (PINTEREST)
Ilustrasi sakit perut. (PINTEREST)

Jawa Pos Radar Madiun - Pernahkah Anda merasa sakit perut saat gugup atau cemas? Itu bukan kebetulan. Usus dan otak manusia terhubung sangat erat melalui sistem saraf yang kompleks.

Banyak orang terlalu fokus menghitung kalori atau protein, namun mengabaikan kondisi mental saat makan, yang justru menjadi kunci kesehatan pencernaan.

Kondisi psikologis dan gaya hidup modern menjadi "pencuri" kesehatan usus yang sering kali tidak kasatmata.

1. Dampak Stres Kronis terhadap Usus

Stres bukan hanya masalah pikiran. Saat stres, tubuh mengaktifkan mode fight-or-flight yang mengalihkan aliran darah menjauh dari sistem pencernaan.

Hal ini mengubah cara usus bergerak dan bereaksi, yang sering kali berujung pada ketidaknyamanan kronis seperti sindrom iritasi usus.

Baca Juga: Bukan Hanya Soal Menu, 3 Kesalahan Fisik Ini Diam-Diam Merusak Kerja Lambung

2. Makan Sambil Teralihkan

Makan sambil bekerja, menonton televisi, atau bermain ponsel membuat otak tidak fokus pada proses asupan.

Kehilangan kesadaran saat makan (mindful eating) ini memperlambat proses pencernaan karena tubuh tidak dalam kondisi rileks yang diperlukan untuk mengolah makanan secara efisien.

3. Kekeliruan Terlalu Fokus pada Hitungan Kalori

Melacak kalori secara obsesif mungkin membantu menurunkan berat badan, tetapi tubuh tidak menyerap semua kalori dengan cara yang sama.

Pencernaanlah yang menentukan nutrisi apa yang benar-benar diserap.

Terlalu fokus pada angka seringkali membuat seseorang mengabaikan sinyal alami tubuh tentang kapan harus berhenti atau jenis makanan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh usus. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
otak stres pencernaan kebiasaan usus