Jawa Pos Radar Madiun - Munculnya gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sering kali meningkat seiring dengan cuaca panas dan perubahan cuaca yang mendadak.
Meski mengganggu, sebagian besar gejala ISPA ternyata bisa ditangani secara mandiri di rumah tanpa harus langsung ke rumah sakit.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa infeksi pada saluran napas atas (hidung hingga tenggorokan) biasanya menunjukkan gejala ringan.
Misalnya seperti tenggorokan kering, suara serak, hingga batuk-batuk.
Baca Juga: Resep Bajingan Khas Pacitan, Camilan Tradisional Manis Legit yang Mulai Langka
Langkah Penanganan Mandiri di Rumah
Menurut Prof Tjandra, kunci utama pemulihan ISPA di rumah adalah menjaga saluran napas agar tidak kering. Berikut langkah-langkahnya:
-
Istirahat Cukup: Memberikan waktu bagi sistem imun untuk bekerja maksimal melawan infeksi.
-
Hidrasi Cairan Hangat: Memperbanyak minum air putih, terutama air hangat, sangat efektif menjaga kelembapan saluran napas.
-
Menghirup Uap Air: Menghirup uap air hangat (tanpa perlu tambahan obat) dapat membantu mengencerkan lendir dan melegakan pernapasan yang terasa kering.
-
Obat Pereda Gejala: Penggunaan obat penurun panas (parasetamol) atau pereda batuk yang dijual bebas dapat digunakan sesuai kebutuhan untuk meredakan keluhan.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun bisa ditangani sendiri, Anda harus waspada jika infeksi mulai menyerang saluran napas bagian bawah (paru-paru). Prof Tjandra mengingatkan untuk segera ke fasilitas kesehatan jika menemui tanda-tanda berikut:
-
Gejala tidak kunjung reda setelah tiga hari.
-
Mulai muncul tanda-tanda sesak napas atau napas menjadi cepat.
-
Batuk terasa dalam, disertai nyeri dada.
-
Terjadi penurunan daya tahan tubuh yang signifikan.
"Jika keluhan sudah mengarah ke paru-paru dengan napas cepat, itu bisa diduga mengarah ke pneumonia. Segeralah berobat ke pusat kesehatan terdekat," tegasnya.
Satu hal yang ditekankan oleh Prof Tjandra adalah ketegasan dalam penggunaan obat-obatan spesifik.
Masyarakat diingatkan untuk tidak mengonsumsi obat anti-bakteri (antibiotik) atau anti-virus tanpa konsultasi dokter, karena penggunaan yang salah dapat memicu resistensi obat atau efek samping berbahaya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani