Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Sering Lari Saat Hubungan Mulai Serius? Kenali Apa Itu Avoidant Attachment Style

Mizan Ahsani • Jumat, 17 April 2026 | 13:41 WIB
Ilustrasi Gaya Hubungan Avoidant Attachment (Kayli Larkin)
Ilustrasi Gaya Hubungan Avoidant Attachment (Kayli Larkin)

Jawa Pos Radar Madiun - Pernahkah Anda bertemu seseorang atau mungkin Anda sendiri yang terlihat sangat mandiri, percaya diri, punya banyak teman, namun selalu menghindar saat sebuah hubungan mulai terasa intim dan mendalam?

Dalam ilmu psikologi, pola perilaku ini dikenal dengan sebutan Avoidant Attachment Style (gaya keterikatan penghindaran).

Mereka sering dijuluki sebagai lone wolf atau penyendiri yang tangguh.

Namun, di balik kemandirian ekstrem tersebut, tersimpan ketakutan besar akan kedekatan emosional.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 20 Ribu Hari Ini, Simak Daftar Lengkapnya

Apa Itu Avoidant Attachment Style dan Akar Penyebabnya?

Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., menjelaskan bahwa avoidant attachment adalah sikap di mana seseorang berusaha agar tidak bergantung pada orang lain.

Mereka takut disakiti atau dikecewakan, sehingga memilih untuk menutup diri dan melakukan semuanya sendiri.

Pola ini tidak muncul secara tiba-tiba. Menurut Teori Keterikatan (Attachment Theory) dari John Bowlby, gaya keterikatan orang dewasa sangat dibentuk oleh interaksi mereka dengan pengasuh atau orang tua di masa kecil.

Anak-anak yang tumbuh menjadi avoidant biasanya dibesarkan oleh orang tua yang mengabaikan atau tidak peka terhadap kebutuhan emosional anak.

Bersikap kaku, menjaga jarak emosional, dan tidak menoleransi ekspresi perasaan (seperti menangis atau ketakutan).

Menuntut anak untuk selalu tangguh, mandiri, dan tidak cengeng sejak usia sangat dini.

Akibatnya, anak belajar bahwa "meminta tolong hanya akan berujung pada penolakan." Insting alami mereka untuk mencari kenyamanan akhirnya mati atau 'dimatikan' secara paksa.

Baca Juga: Mendengarkan Album Bara dari bArddd, Tidak Berisik tapi Membekas Lama, Nuansa "Sound Bandung" Kental Terasa

Ciri-Ciri Orang dengan Avoidant Attachment

Dari luar, mereka mungkin terlihat punya banyak teman, asyik diajak bergaul, dan sangat sukses dalam karier.

Namun, dalam hubungan yang membutuhkan keintiman emosional, ciri-ciri berikut akan muncul:

  1. Membangun Tembok Pembatas
    Sangat sulit membiarkan orang lain masuk ke kehidupan pribadinya. Obrolan biasanya hanya sebatas di permukaan.

  2. Kabur Saat Mulai Intim
    Ketika hubungan asmara mulai melangkah ke tahap serius, mereka cenderung panik, menarik diri, atau tiba-tiba menghilang (ghosting).

  3. Sengaja Mencari Celah
    Secara tidak sadar, mereka sering mencari-cari kesalahan kecil pada pasangannya sebagai alasan atau pembenaran untuk mengakhiri hubungan.

  4. Menolak Dukungan
    Sangat anti menerima dukungan emosional maupun material dari orang lain.

  5. Pelarian pada Kesibukan
    Saat merasa tertekan secara emosional, mereka tidak akan curhat. Mereka lebih memilih mengalihkan perhatian dengan gila kerja (workaholic), berbelanja, atau makan.

Baca Juga: Tangan Sering Pegal? Ini Rahasia Memilih Mouse yang Lebih Nyaman untuk Kerja Lama

Apakah Bisa Disembuhkan?

Meski terlihat tidak peduli, jauh di lubuk hatinya, orang dengan avoidant attachment tetaplah manusia biasa yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Hanya saja, mereka tidak tahu bagaimana cara menerimanya.

Kabar baiknya, gaya keterikatan ini bukanlah "hukuman seumur hidup" dan bisa diubah menjadi lebih aman (secure attachment). Berikut langkah-langkah penyembuhannya.

Sadari dan Akui
Langkah pertama adalah menyadari bahwa 'tombol' keintiman emosional yang selama ini dimatikan, harus mulai dinyalakan kembali.

Pahami Perasaan Diri Sendiri
Berlatihlah untuk melakukan refleksi diri. Tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?" dan "Apa yang saya butuhkan saat ini?"

Buka Diri Perlahan
Cobalah mengambil langkah kecil untuk mulai menceritakan keluh kesah kepada orang yang paling bisa dipercaya.

Terapi Profesional
Jika tembok emosional terasa terlalu tebal untuk diruntuhkan sendiri, mengikuti Terapi Perilaku Kognitif (CBT) bersama psikolog adalah solusi yang sangat disarankan untuk memutus pola traumatis dari masa lalu.

Baca Juga: Mata Cepat Lelah Saat Kerja? Jangan Asal Terang! Ini Rahasia Mengatur Pencahayaan Meja Kerja

Dengan kesabaran dan kemauan untuk berproses, seseorang dengan avoidant attachment dapat kembali belajar untuk percaya dan membangun hubungan yang sehat, dalam, serta bertahan lama. (*)

*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

Editor : Mizan Ahsani
#kebiasaan menghindar #avoidant attachment #penyebab avoidant #ciri avoidant #hubungan asmara