Jawa Pos Radar Madiun - Hampir setiap perempuan dengan rahim mengalami rasa nyeri atau perubahan suasana hati menjelang menstruasi (PMS).
Namun, bagi sekitar 3-5% perempuan, kondisi ini muncul dalam skala yang jauh lebih ekstrem yang disebut dengan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).
PMDD bukan sekadar rasa tidak nyaman biasa; ini adalah gangguan fisik dan emosional berat yang muncul 1–2 minggu sebelum haid dan dapat melumpuhkan aktivitas sehari-hari penderitanya.
Mengapa PMDD Terjadi?
Hingga saat ini, penyebab pasti PMDD masih terus diteliti.
Namun, para ahli dari John Hopkins Medicine berspekulasi bahwa kondisi ini merupakan reaksi abnormal tubuh terhadap perubahan hormon normal.
Hal ini dipicu oleh kurangnya serotonin, zat kimia di otak yang mengatur suasana hati, nafsu makan, dan tidur.
Baca Juga: Jangan Sembarangan Pakai Alat! Ternyata Begini Cara Efektif Keluarkan Air di Telinga
Gejala yang Harus Diwaspadai
Gejala PMDD biasanya muncul pada fase ovulasi (sekitar hari ke-14 dalam siklus 28 hari) dan mereda setelah haid dimulai.
Gejalanya meliputi sifat agresif, mudah marah secara ekstrem, gangguan panik, dan kecemasan hebat.
Selain itu gejala lainnya adalah kelelahan luar biasa, pusing atau sakit kepala hebat, insomnia, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Seringkali, penderita PMDD dianggap hanya mengalami "PMS biasa" sehingga tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Padahal, penderita dengan riwayat depresi, trauma, atau gangguan kecemasan memiliki risiko jauh lebih tinggi terkena gangguan ini. (naz)
Editor : Mizan Ahsani