Jawa Pos Radar Madiun - Menghadapi Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) membutuhkan pendekatan medis yang serius.
Karena gejalanya yang menyerupai gangguan mental atau PMS parah, diagnosis yang tepat menjadi kunci utama bagi penderita untuk mendapatkan kembali kualitas hidupnya.
Bagaimana Dokter Mendiagnosa?
Dokter biasanya akan mengevaluasi sejarah kesehatan dan meminta pasien mencatat gejala selama minimal dua siklus haid terakhir.
Seseorang dapat didiagnosa mengidap PMDD jika ditemukan setidaknya lima atau lebih gejala khas yang muncul secara konsisten sebelum menstruasi.
Baca Juga: Telinga Berdenging Kemasukan Air? Hindari Memasukkan Sembarang Benda dan Gunakan Teknik Ini
Opsi Pengobatan dan Penanganan
Ada beberapa cara untuk mengurangi intensitas nyeri dan gangguan emosional akibat PMDD.
Pertama antidepresan dapat membantu menstabilkan kadar serotonin untuk mengurangi kelelahan dan insomnia. Kedua, pil KB juga diklaim dapat menyeimbangkan fluktuasi hormon pada sebagian penderita.
Konsumsi 1200 mg kalsium per hari, vitamin B6, magnesium, serta racikan herbal seperti pohon chaste ditemukan efektif meredakan peradangan.
Olahraga rutin secara signifikan mengurangi rasa nyeri.
Menghindari kafein, alkohol, dan rokok sangat disarankan untuk mencegah gejala emosional yang lebih buruk.
PMDD adalah kondisi medis yang nyata dan valid. Dengan edukasi yang tepat dan dukungan medis, perempuan tidak harus menderita dalam diam setiap bulannya.
Konsultasikan dengan tenaga medis jika Anda merasa gejala pra-menstruasi Anda sudah di luar batas kewajaran. (naz)
Editor : Mizan Ahsani