Jawa Pos Radar Madiun - Menghadapi gempuran deadline di depan layar laptop seringkali membuat para pekerja media lupa waktu. Namun, riset kesehatan terbaru di tahun 2026 memberikan peringatan keras mengenai risiko serius gaya hidup sedentari yang mengancam para profesional yang menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi duduk statis.
Baca Juga: 86 KDMP di Ngawi Sudah Rampung, Progres Belum Merata
Duduk terlalu lama, terutama dengan posisi postur yang salah, bukan sekadar memicu pegal linu. Pakar kesehatan menekankan bahwa kebiasaan diam lebih dari delapan jam sehari dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan jantung secara signifikan. Hal ini dipicu oleh pengerasan arteri atau aterosklerosis akibat minimnya aktivitas fisik yang memadai.
Tak hanya jantung, gangguan metabolik juga menjadi ancaman nyata. Saat tubuh tidak bergerak, kontraksi otot berkurang drastis sehingga menghambat kerja enzim lipase dalam memecah lemak. Kondisi ini menurunkan penyerapan glukosa dalam tubuh yang berujung pada meningkatnya risiko diabetes tipe 2.
Secara fisik, posisi membungkuk saat mengetik di laptop memberikan tekanan berlebih pada cakram tulang belakang dan melemahkan otot inti. Kurangnya pergerakan juga menyebabkan sirkulasi darah tidak lancar, terutama di area kaki, yang dapat memicu trombosis vena dalam (DVT) serta kelelahan ekstrem akibat minimnya pasokan oksigen ke seluruh tubuh.
Baca Juga: Tips Cerdas Membeli dan Merawat Gadget Agar Awet Bertahun-tahun
Untuk meminimalisir dampak buruk tersebut di tengah padatnya aktivitas digital tahun 2026, para ahli menyarankan penerapan aturan 20-30 menit. Pekerja diimbau untuk melakukan peregangan ringan atau berjalan santai sejenak guna mengaktifkan kembali metabolisme tubuh. Penggunaan meja kerja ergonomis atau standing desk juga sangat disarankan agar posisi layar sejajar dengan mata, sehingga ketegangan pada leher dan pergelangan tangan dapat berkurang. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani