Jawa Pos Radar Madiun - Banyak orang mengira cacar air hanya dialami sekali seumur hidup. Setelah sembuh, penyakit dianggap selesai tanpa risiko lanjutan.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Virus penyebab cacar air, yaitu Varicella zoster, dapat tetap berada di dalam tubuh dan aktif kembali di kemudian hari dalam bentuk cacar api.
Risiko Meningkat pada Usia 50 Tahun ke Atas
Siti Nadia Tarmizi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa siapa pun yang pernah terinfeksi cacar air berpotensi mengalami cacar api di masa mendatang.
Pemicu utamanya adalah penurunan daya tahan tubuh, yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti usia, stres, hingga penyakit penyerta.
“Masyarakat mungkin menganggap cacar api itu biasa-biasa saja, atau nanti diobati sembuh. Tapi pada kondisi-kondisi tertentu tadi bisa kena jantungnya, apalagi kalau dia punya hipertensi, diabetes melitus, dan biasanya orang tua juga gampang stres ya,” jelas Nadia.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa cacar api bukan sekadar gangguan kulit biasa, tetapi bisa berdampak lebih serius, terutama bagi kelompok rentan.
Data menunjukkan jumlah masyarakat dengan penyakit penyerta di Indonesia cukup tinggi.
Puluhan juta orang hidup dengan hipertensi maupun diabetes, yang keduanya dapat meningkatkan risiko komplikasi jika terkena cacar api.
Kondisi ini membuat pencegahan menjadi semakin penting, terutama bagi kelompok usia lanjut.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan mempertimbangkan vaksinasi cacar api, terutama menjelang usia 50 tahun.
Langkah ini dinilai efektif sebagai perlindungan tambahan, selain menjaga kondisi tubuh tetap sehat.
Baca Juga: Gejala Cacar Api Sering Disalahartikan, Kenali Tandanya sejak Awal
Gaya Hidup Sehat Kunci Jaga Imunitas
Pada kesempatan yang sama, Ade Meidian Ambari dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia menekankan pentingnya menjaga gaya hidup.
Menurutnya, sistem imun tidak selalu stabil dan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari.
“Sistem imun kita itu naik turun, kadang dia bagus, kadang dia jelek. Jadi perlu diingat bahwa sistem imun itu tergantung dari lifestyle yang sehat,” ujarnya.
Ia menyarankan aktivitas fisik setidaknya 150 menit per minggu dengan intensitas sedang, serta menjaga pola hidup seimbang.
Jangan Abaikan Tidur dan Stres
Selain olahraga, faktor lain yang sering diabaikan adalah kualitas tidur dan pengelolaan stres.
Tidur ideal berkisar antara 6–8 jam per hari. Kurang atau berlebihan justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular.
Mengelola stres juga penting, karena tekanan mental yang berlebihan dapat menurunkan sistem imun dan memicu berbagai penyakit. “Jangan terlalu banyak dipikirkan,” kata Ade. (naz)
Editor : Mizan Ahsani