Jawa Pos Radar Madiun - Kecelakaan sering kali meninggalkan bekas yang jelas terlihat—luka, patah tulang, atau cedera fisik lainnya.
Namun, ada dampak lain yang tak kalah serius, meski tidak kasat mata: trauma psikologis.
Peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur menjadi pengingat bahwa penyintas tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga secara mental setelah kejadian.
Menurut Rose Mini Agoes Salim, pengalaman kecelakaan dapat memicu beragam respons psikologis, mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan serius seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
“Setelah mengalami kecelakaan, mungkin saja seseorang mengalami gangguan stres pascatrauma. Namun, respons tiap individu berbeda, sehingga tidak semua akan berkembang menjadi PTSD,” jelasnya.
Artinya, setiap orang memiliki cara masing-masing dalam merespons trauma.
Gejala yang Sering Tidak Disadari
Trauma tidak selalu muncul secara langsung atau dalam bentuk yang jelas. Dalam banyak kasus, gejalanya justru terlihat “sepele” atau membingungkan.
Korban bisa mengalami:
- Kecemasan berlebihan
- Jantung berdebar di situasi tertentu
- Kesulitan berkonsentrasi hingga tampak melamun
Bahkan, hal-hal yang berkaitan dengan kejadian—seperti suara kereta—bisa memicu rasa takut yang kuat.
Serangan Panik Bisa Datang Tiba-Tiba
Dalam kondisi tertentu, trauma dapat berkembang menjadi serangan panik.
Gejalanya meliputi sesak napas, keringat dingin, hingga rasa takut yang intens tanpa sebab yang jelas.
“Panic attack bisa muncul tiba-tiba, misalnya saat berada di tempat ramai atau ketika teringat kejadian. Ini membuat korban menjadi takut untuk beraktivitas seperti biasa,” ujar psikolog tersebut.
Akibatnya, sebagian korban mulai menghindari situasi tertentu, termasuk menggunakan transportasi yang mengingatkan mereka pada kejadian tersebut.
Baca Juga: Cacar Api Tak Boleh Diremehkan: Ternyata Bisa Picu Komplikasi Jantung, Ini Peringatan Kemenkes
Jika Tidak Ditangani, Bisa Berujung Depresi
Trauma yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti depresi.
Korban bisa mengalami:
- Perasaan sedih berkepanjangan
- Kehilangan minat terhadap aktivitas
- Menarik diri dari lingkungan sosial
Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
Pemulihan Butuh Waktu dan Dukungan
Rose Mini menekankan bahwa pengalaman traumatis bersifat sangat subjektif. Tidak semua orang pulih dengan cara atau waktu yang sama.
Lingkungan sekitar memiliki peran penting untuk memberikan dukungan, bukan tekanan.
Pemulihan tidak bisa dipaksakan, tetapi perlu proses yang perlahan agar korban dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal.
Kecelakaan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dampak mental yang bisa bertahan lama.
Mengenali gejala sejak awal dan memberikan dukungan yang tepat menjadi kunci penting dalam proses pemulihan penyintas. (naz)
Editor : Mizan Ahsani