Jawa Pos Radar Madiun - "Jangan hujan-hujanan, nanti pusing dan demam!" Teguran bernada khawatir dari orang tua ini tentu sudah sangat akrab di telinga kita sejak kecil.
Di Indonesia, masyarakat telanjur percaya bahwa air hujan adalah biang kerok utama dari berbagai keluhan kesehatan, mulai dari flu, batuk, hingga sakit kepala berdenyut.
Namun, benarkah air hujan secara magis bisa langsung membuat seseorang jatuh sakit? Atau jangan-jangan, hal tersebut hanyalah mitos belaka yang diwariskan turun-temurun?
Mengutip tinjauan medis dari dr. Rizal Fadli dan dr. Uswatun Hasanah, berikut adalah fakta ilmiah di balik dampak kehujanan bagi kesehatan tubuh.
Baca Juga: Awas Darah Tinggi! Kenali Manfaat dan Bahaya 'Tersembunyi' Garam Dapur bagi Tubuh
Bukan Hujannya, Melainkan Perubahan Suhu
Fakta pertama yang wajib diluruskan: air hujan tidak secara langsung menyebabkan demam, flu, atau batuk.
Penyakit seperti batuk dan pilek sejatinya murni disebabkan oleh infeksi virus, bukan oleh air yang menetes dari langit.
Lantas, mengapa kepala sering kali mendadak pusing setelah kehujanan? Hal ini disebabkan oleh perubahan suhu yang ekstrem.
Saat Anda terguyur hujan, suhu tubuh akan mengalami penurunan drastis akibat paparan udara dingin yang mendadak.
Pembuluh darah di kepala bisa menyempit karena tubuh merespons "stres termal" tersebut, yang pada akhirnya memicu sensasi nyeri di kepala atau demam (peningkatan suhu tubuh hingga melampaui 38°C).
Baca Juga: Diet Tanpa Siksa: Rekomendasi Makanan Lezat yang Bikin Kenyang Lebih Lama
Ancaman Polutan dan Bakteri Tersembunyi
Meski air hujan bukan penyebab tunggal Anda terserang flu, rintik hujan yang jatuh dari awan sejatinya tidak seratus persen higienis.
Saat meluncur ke bumi, air hujan melewati lapisan polusi udara, menyapu kotoran di atap rumah, hingga mengenai kabel listrik.
Dalam proses perjalanannya, air hujan sangat rentan terkontaminasi oleh gas buang kendaraan (karbon monoksida), bakteri, maupun virus.
Bahkan di beberapa kawasan industri, air hujan bisa bersifat sangat asam.
Saat rintik air yang telah tercemar polutan ini mengenai tubuh dan udaranya terhirup, patogen penyebab penyakit memiliki peluang besar untuk menyusup ke dalam saluran pernapasan.
Baca Juga: Mata Cepat Lelah? 7 Cara Sederhana Jaga Kesehatan dari Paparan Gadget Seharian
Pentingnya Ritual Mandi dan Keramas
Mitos lain yang beredar adalah anjuran untuk segera mandi dan keramas setelah kehujanan. Menariknya, hal ini ternyata didukung oleh fakta medis!
Banyak orang yang membiarkan tubuhnya mengering dengan sendirinya setelah kehujanan.
Padahal, jika tubuh tidak segera dibilas, kotoran, zat asam, serta virus yang dibawa oleh air hujan akan menetap lebih lama di permukaan kulit dan rambut.
Mandi dan keramas menggunakan air bersih (idealnya air hangat) tidak hanya berfungsi membilas tuntas seluruh patogen tersebut, tetapi juga bekerja efektif mengembalikan suhu inti tubuh ke level normal.
Pada akhirnya, sakit atau tidaknya Anda setelah menerjang hujan sangat bergantung pada benteng pertahanan terakhir: sistem imunitas tubuh.
Jika daya tahan tubuh sedang anjlok, paparan suhu dingin dan virus akan dengan mudah membuat Anda tumbang.
Oleh sebab itu, jagalah kebugaran lewat asupan bergizi, olahraga rutin, dan suplemen multivitamin di kala musim pancaroba tiba.(*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura