Jawa Pos Radar Madiun - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menyoroti insiden darurat yang terjadi di atas kapal pesiar MV Hondius.
Kapal yang sedang dalam pelayaran melintasi Samudra Atlantik dari Argentina menuju Tanjung Verde tersebut mendadak diserang wabah penyakit mematikan bernama Hantavirus.
Berdasarkan laporan awal Mei 2026, wabah ini dilaporkan telah merenggut nyawa tiga orang di atas kapal.
WHO mengonfirmasi adanya satu kasus positif Hantavirus, sementara lima kasus dugaan (suspect) lainnya masih dalam tahap penyelidikan laboratorium yang intensif.
Baca Juga: Panas Ekstrem Ganggu Hormon, Waspadai Dampaknya pada Tubuh
Apa Itu Hantavirus dan Bagaimana Penularannya?
Hantavirus adalah kelompok virus berbahaya yang dibawa oleh hewan pengerat, utamanya tikus.
Secara umum, virus ini tidak menular dari manusia ke manusia (kecuali pada galur Andes dalam kasus yang sangat langka).
Penularan ke tubuh manusia paling sering terjadi melalui jalur udara (aerosol).
Ketika urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengandung virus mengering, partikelnya dapat terbang ke udara.
Jika seseorang menghirup partikel tersebut terutama di ruangan tertutup atau minim ventilasi virus akan langsung menginfeksi saluran pernapasan.
Selain itu, infeksi juga bisa terjadi lewat sentuhan pada benda yang terkontaminasi atau melalui gigitan tikus.
Baca Juga: Stres tanpa Sebab Semakin Marak, Meditasi Jadi Kunci Kendalikan Pikiran
Dua Ancaman Penyakit Mematikan
Ketika seseorang terinfeksi Hantavirus, virus ini dapat berkembang menjadi dua komplikasi penyakit yang sangat serius.
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
Menyerang sistem pernapasan. Gejala awalnya menyerupai flu berat berupa kelelahan, demam, nyeri otot, hingga gangguan pencernaan.
Jika paru-paru mulai terinfeksi, penderita akan kesulitan bernapas dengan tingkat fatalitas (fatality rate) mencapai 38 persen.
Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
Kondisi ini lebih parah karena langsung menyerang fungsi ginjal.
Gejala lanjutannya meliputi tekanan darah yang anjlok, pendarahan internal, hingga memicu gagal ginjal akut.
Kasus kematian akibat Hantavirus pernah menjadi sorotan global pada Februari 2025 lalu.
Betsy Arakawa, istri dari aktor peraih Oscar Gene Hackman, meninggal dunia akibat HPS.
Penyelidik medis belakangan menemukan sarang dan bangkai tikus di kediamannya.
Baca Juga: Sering Minum Obat Nyeri? Awas Ada Bahaya Tersembunyi yang Bisa Mengancam Ginjal Anda
Faktor Risiko dan Pencegahan
Ancaman Hantavirus biasanya mengintai di tempat-tempat yang menjadi sarang tikus, seperti bangunan terbengkalai, gudang, loteng, ruang bawah tanah, hingga area perkemahan.
Para pekerja di sektor konstruksi, pertanian, dan pembasmi hama memiliki risiko paparan yang jauh lebih tinggi.
Hingga saat ini, belum ada obat atau vaksin khusus yang bisa menyembuhkan infeksi Hantavirus.
Penanganan medis di rumah sakit seperti terapi oksigen, pemasangan ventilator, hingga cuci darah (dialisis) hanya berfokus pada upaya meredakan gejala pasien.
Oleh karena itu, langkah pencegahan terbaik adalah dengan memutus kontak dengan hewan pengerat.
Tutup rapat titik masuk tikus ke dalam rumah, jaga sirkulasi udara, dan selalu gunakan masker serta sarung tangan saat membersihkan area berdebu atau tempat yang sudah lama tidak dihuni.(*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura