Jawa Pos Radar Madiun - Perjalanan wisata yang dimulai dengan antusias berubah menjadi situasi darurat di tengah laut.
Di atas kapal pesiar yang mengangkut ratusan orang, sejumlah penumpang tiba tiba mengalami gejala serius.
Dalam waktu singkat, kondisi memburuk dan korban jiwa pun tak terhindarkan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menerima laporan pada 2 Mei 2026 terkait klaster penyakit pernapasan berat di kapal tersebut.
Hingga 4 Mei 2026, total tujuh kasus teridentifikasi.
Rincian kasus:
- 2 kasus terkonfirmasi hantavirus
- 5 kasus masih diduga
- 3 meninggal dunia
- 1 dalam kondisi kritis
- 3 mengalami gejala ringan
Gejala yang muncul tidak ringan. Pasien mengalami demam, gangguan pencernaan, lalu berkembang menjadi pneumonia dan gangguan pernapasan serius.
Kasus pertama dialami seorang pria dewasa pada 6 April 2026. Ia mengalami demam dan gangguan ringan, namun kondisinya memburuk cepat hingga meninggal pada 11 April.
Beberapa waktu kemudian, muncul kasus kedua.
Kasus kedua merupakan perempuan yang memiliki kontak erat dengan pasien pertama.
Baca Juga: Wabah Hantavirus Renggut 3 Nyawa di Kapal Pesiar, Kenali Bahaya dan Gejala Virus Kencing Tikus
Ia sempat turun di Saint Helena sebelum akhirnya meninggal di Afrika Selatan. Hasil tes memastikan infeksi hantavirus.
Kasus ketiga mengalami pneumonia berat dan kini dirawat intensif.
Kasus keempat meninggal setelah gejala memburuk cepat. Adapun tiga kasus lain masih dalam pengawasan.
Gejala yang dialami hampir seragam, mulai dari demam hingga gangguan pernapasan.
Para ahli masih meneliti bagaimana virus menyebar di kapal. Kontak dekat antar penumpang menjadi salah satu faktor yang diperhatikan.
Namun hingga kini belum ada kesimpulan pasti mengenai sumber utama penularan.
Penanganan Darurat di Atas Kapal
Setelah kasus terdeteksi, langkah cepat langsung dilakukan. Penumpang diminta tetap berada di kabin masing masing untuk mencegah penyebaran.
Koordinasi internasional juga digelar melibatkan beberapa negara untuk menangani situasi ini.
Kapal tersebut membawa 147 orang dari 23 negara. Saat ini posisinya berada di perairan Cabo Verde.
Meski situasi cukup serius, WHO menilai risiko penyebaran ke tingkat global masih rendah. Namun pemantauan tetap dilakukan secara ketat.
Tim kesehatan masih menelusuri sumber wabah. Semua kemungkinan dikaji, termasuk riwayat perjalanan dan aktivitas penumpang selama pelayaran.
Kasus ini menjadi perhatian karena terjadi di lingkungan tertutup yang rentan mempercepat penyebaran penyakit. (naz)
Editor : Mizan Ahsani