Jawa Pos Radar Madiun - Kabar mengejutkan datang dari perairan Atlantik setelah otoritas kesehatan dunia melaporkan adanya klaster kasus infeksi hantavirus di sebuah kapal pesiar.
Kapal pesiar mewah MV Hondius yang berlayar dari Argentina tersebut kini menjadi sorotan setelah mencatatkan tiga kasus kematian yang dikaitkan dengan infeksi virus langka ini.
Organisasi Kesehatan Dunia mencatat sedikitnya ada tujuh kasus infeksi hantavirus yang diidentifikasi menulari para penumpang dan kru di atas kapal tersebut.
Munculnya klaster ini memicu kekhawatiran global akan potensi penularan virus zoonosis atau penyakit yang bersumber dari hewan ke manusia di ruang tertutup.
Baca Juga: Viral Harga Asli Pertalite Rp16 Ribu, Ini Penjelasan Resmi Pertamina
Agar lebih waspada, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai apa itu hantavirus, cara penularannya, hingga gejala yang harus diwaspadai:
Mengenal Apa Itu Hantavirus
Hantavirus merupakan kelompok patogen yang dibawa oleh hewan pengerat atau rodensia, seperti tikus dan mencit yang bertindak sebagai inang alaminya.
Virus ini umumnya terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni varian dunia lama yang ditemukan di Eropa dan Asia, serta varian dunia baru di kawasan Benua Amerika.
Masing-masing spesies hantavirus biasanya terkait sangat erat dengan spesies hewan pengerat tertentu di suatu wilayah geografis.
Metode Penularan Utama Hantavirus
Manusia dapat terinfeksi hantavirus terutama melalui kontak langsung dengan sisa metabolisme hewan pengerat, seperti urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Penularan paling umum terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi oleh kotoran tikus tersebut.
Virus juga bisa masuk ke dalam tubuh apabila seseorang menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah tanpa mencuci tangan.
Potensi Penularan Antarmanusia
Pada umumnya, hantavirus digolongkan sebagai virus yang tidak menular dari manusia ke manusia secara langsung.
Namun, varian tertentu dari hantavirus dunia baru, seperti varian Andes yang ditemukan di Amerika Selatan, diketahui memiliki kemampuan langka menular antarmanusia.
Varian Andes inilah yang diduga kuat menjadi dalang utama di balik meluasnya wabah hantavirus di antara para penumpang kapal pesiar MV Hondius.
Gejala Awal yang Mengecoh
Gejala infeksi hantavirus biasanya baru muncul antara satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus tersebut.
Fase awal penyakit ini sangat sulit didiagnosis karena gejalanya sangat mirip dengan flu biasa, seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, dan nyeri otot hebat.
Beberapa penderita juga kerap mengeluhkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare ringan, hingga nyeri pada bagian perut.
Fase Kritis yang Berakibat Fatal
Jika tidak segera ditangani, infeksi hantavirus dapat memburuk dengan sangat cepat dan menyerang organ vital seperti paru-paru atau ginjal.
Pada sindrom paru hantavirus, penderita akan mengalami batuk parah hingga sesak napas hebat karena paru-parunya terisi oleh cairan.
Sementara pada sindrom ginjal, virus ini dapat memicu penurunan tekanan darah secara drastis, perdarahan dalam, hingga memicu gagal ginjal akut.
Langkah Pencegahan Paling Efektif
Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun obat antivirus spesifik yang mampu menyembuhkan infeksi hantavirus secara total.
Oleh karena itu, langkah pencegahan paling efektif adalah dengan memutus rantai penularan melalui pengendalian populasi tikus di lingkungan sekitar.
Pastikan untuk menutup rapat semua lubang yang berpotensi menjadi akses masuk tikus dan rutin membersihkan area yang dicurigai sebagai sarangnya.
Baca Juga: Cair Mei 2026, Kemensos Tetapkan 475 Ribu Penerima Baru Bansos PKH dan BPNT
Kesimpulannya, menjaga kebersihan lingkungan dari keberadaan hewan pengerat adalah kunci utama untuk mencegah paparan hantavirus.
Gunakan selalu alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang kotor untuk menghindari terhirupnya partikel virus berbahaya. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura