Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah melambungnya harga properti yang kian tak terjangkau dan ketidakpastian ekonomi global, muncul sebuah fenomena perilaku finansial yang cukup mengkhawatirkan di kalangan generasi muda: Doom Spending.
Bukannya memperketat ikat pinggang, banyak Gen Z justru terjebak dalam pola belanja impulsif sebagai cara untuk mengatasi stres dan kecemasan terhadap masa depan.
Baca Juga: Milenial dan Gen Z Ramai Tinggalkan Kantor: Era Baru Freelance dan Bisnis Kecil Demi Kendali Hidup
Secara psikologis, doom spending menjadi semacam "pelarian" untuk mendapatkan kebahagiaan instan. Ketika target finansial jangka panjang—seperti memiliki rumah—terasa mustahil dicapai, uang yang ada cenderung dialihkan untuk konsumsi gaya hidup yang lebih nyata di depan mata.
Mengapa Gen Z Terjebak Doom Spending?
Beberapa faktor krusial menjadi pemicu mengapa perilaku ini kian masif di tahun 2026:
-
Kecemasan Masa Depan: Pesimisme terhadap kondisi ekonomi membuat banyak anak muda merasa menabung adalah hal yang sia-sia. Prinsip "nikmati uang sekarang sebelum inflasi makin parah" menjadi pembenaran.
-
Stres & Self-Soothing: Belanja dianggap sebagai alat healing instan. Tekanan hidup yang tinggi membuat barang baru atau pengalaman mewah menjadi penenang sementara.
-
FOMO & Media Sosial: Paparan konten gaya hidup di media sosial memicu rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out), yang mendorong konsumsi produk secara terus-menerus.
-
Kemudahan Akses Finansial: Kehadiran fitur paylater dan kemudahan belanja online membuat transaksi terjadi begitu cepat tanpa hambatan fisik uang tunai.
Dampak Negatif yang Mengintai
Meski memberikan rasa nyaman sesaat, doom spending membawa risiko serius bagi kesehatan finansial. Salah satu yang paling nyata adalah lingkaran utang akibat ketergantungan pada pinjaman online (pinjol).
Selain itu, pengabaian terhadap dana darurat membuat individu sangat rentan saat menghadapi situasi krisis yang mendadak.
Langkah Bijak Mengatasi Doom Spending
Agar tidak terperosok lebih dalam, ada beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan:
-
Batasi Media Sosial: Kurangi paparan terhadap akun-akun yang sering memamerkan tren konsumtif guna meredam keinginan belanja yang tidak perlu.
-
Manajemen Anggaran yang Ketat: Mulailah mencatat setiap pengeluaran sekecil apa pun dan tetapkan batas anggaran bulanan yang tegas.
-
Edukasi Finansial: Membangun kesadaran bahwa kesehatan finansial jangka panjang jauh lebih berharga daripada kepuasan semu di masa sekarang.
Baca Juga: Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z, Ternyata Ini Alasannya
Menghadapi tantangan ekonomi memang tidak mudah, namun mengelola keuangan dengan kepala dingin adalah kunci agar generasi muda tetap memiliki daya tahan di masa depan.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani