Jawa Pos Radar Madiun - Fenomena tubuh terasa remuk, lelah, dan pusing setelah tidur seharian di hari Minggu belakangan ini tengah memicu rasa penasaran publik. Di jagat maya, banyak pekerja urban yang berbondong-bondong mencari tahu penyebab kondisi tersebut. Istilah medis social jetlag pun mendadak viral dicari artinya karena dinilai sangat relevan dengan kebiasaan kaum pekerja masa kini.
Social jetlag sendiri merupakan kondisi terjadinya perbedaan jam tidur yang drastis antara hari kerja dengan hari libur akhir pekan. Sebagai contoh, seorang pekerja hanya tidur selama 5 jam pada hari Senin hingga Jumat, lalu mencoba "balas dendam" dengan tidur hingga 10 jam saat akhir pekan tiba.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp 17 Ribu, Komisi XI DPR Sentil BI: Hormati Kesepakatan Asumsi di Level Rp 16.500!
Mengacak-acak Jam Biologis Tubuh
Meskipun niatnya untuk membayar utang tidur, sudut pandang ilmiah justru menunjukkan hasil sebaliknya. Kebiasaan menggeser jadwal tidur secara ekstrem ini dapat mengacak-acak ritme sirkadian, alias jam biologis internal yang mengatur siklus bangun dan tidur selama 24 jam.
Saat ritme sirkadian ini terganggu, tubuh akan mengalami kebingungan hormonal. Alih-alih merasa segar, proses pelepasan hormon kortisol (hormon stres) dan melatonin menjadi tidak seimbang. Efek instan inilah yang memicu rasa pusing dan badan lemas seperti habis menempuh perjalanan melintasi zona waktu yang berbeda (jetlag), meski Anda tidak pergi ke mana-mana.
Ancaman Penyakit Jantung dan Gangguan Metabolisme
Dampak social jetlag ternyata tidak boleh disepelekan dan meluas hingga ke masalah kesehatan kronis. Berbagai penelitian medis terbaru menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan jadwal tidur mingguan ini berkorelasi kuat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular (jantung) dan gangguan metabolisme tubuh.
-
Beban Kerja Jantung: Perubahan ritme sirkadian yang mendadak memaksa jantung bekerja lebih keras akibat fluktuasi tekanan darah dan detak jantung yang tidak stabil selama periode "balas dendam" tidur.
-
Risiko Diabetes: Gangguan jam biologis ini juga memicu penurunan sensitivitas insulin. Akibatnya, tubuh kesulitan memproses gula darah dengan baik, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.
Baca Juga: Tidur di Depan Cermin: Mitos Menyeramkan atau Sekadar Efek Psikologis?
Solusi Jitu: Jaga Konsistensi Jam Tidur
Untuk memutus rantai social jetlag dan menjaga kesehatan organ dalam, kuncinya terletak pada konsistensi. Menjaga pola tidur yang teratur jauh lebih berharga daripada durasi tidur yang panjang namun polanya berantakan.
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah berkomitmen untuk tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk di hari Sabtu dan Minggu. Batas toleransi pergeseran jam tidur saat libur maksimal hanya satu jam dari jadwal hari kerja. Jika Anda memang kekurangan tidur di hari biasa, gantilah dengan tidur siang singkat (power nap) selama 20 hingga 30 menit di siang hari, alih-alih menghabiskan waktu dengan tidur seharian penuh di hari Minggu.(*)
* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani