Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cuaca Makin Terik Membakar Kulit? Ini Penjelasan BMKG dan Bahaya Tersembunyi Global Warming

Mizan Ahsani • Selasa, 19 Mei 2026 | 14:22 WIB
Visualisasi Penyebaran Suhu Peta Indonesia (BMKG)
Visualisasi Temperatur Suhu Peta Indonesia (BMKG)

Jawa Pos Radar Madiun - Belakangan ini, masyarakat banyak mengeluhkan kondisi cuaca yang terasa sangat panas dan membakar kulit.

Meski suhu udara terpantau berada di angka normal, tubuh sering kali merasakan panas yang jauh lebih ekstrem.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di wilayah Indonesia saat ini berkisar antara 31 hingga 34 derajat Celsius.

Namun, mengapa cuaca terasa begitu menyengat? Jawabannya terletak pada kombinasi dinamika meteorologi wilayah dan krisis iklim global.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Rasa Asamnya: Ini Khasiat Rebusan Belimbing Wuluh untuk Jinakkan Hipertensi

Tiga Faktor Pemicu Cuaca Terik

Cuaca panas ekstrem yang melanda saat ini bukan tanpa alasan. Terdapat tiga fenomena alam utama yang sedang terjadi secara bersamaan:

  1. Gerak Semu Matahari
    Posisi semu matahari saat ini sedang bergerak menuju wilayah selatan ekuator. Hal ini membuat wilayah Indonesia menerima paparan sinar matahari dengan intensitas lebih tinggi dan durasi lebih panjang.

  2. Angin Kering Australia
    Hembusan angin timur dari benua Australia membawa massa udara yang kering dan rendah kelembapan.

  3. Fenomena Clear Sky
    Udara yang kering menghambat pembentukan awan hujan. Kondisi langit cerah tanpa awan (clear sky) ini membuat radiasi sinar ultraviolet (UV) langsung menembus permukaan bumi tanpa penghalang alami.

Baca Juga: Kaya Nutrisi, Ini 6 Manfaat Okra bagi Kesehatan dan Tips Mengolahnya agar Tidak Berlendir

Diperparah Efek Global Warming

Selain faktor siklus alam, kondisi panas saat ini makin tak tertahankan akibat global warming atau pemanasan global.

Pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi besar-besaran telah melepaskan gas rumah kaca (seperti CO2 dan metana) secara berlebihan ke atmosfer.

Gas-gas tersebut membentuk lapisan tebal yang memerangkap panas matahari agar tidak bisa memantul kembali ke luar angkasa.

Akibatnya, panas matahari di siang hari akan tersimpan lebih lama. Hal ini menjelaskan mengapa udara di malam hari tetap terasa gerah, terutama di perkotaan yang minim Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Baca Juga: Bukan Sekadar Lalapan: Daun Singkong Ternyata Kaya Zat Besi untuk Cegah Anemia

Waspada Heatstroke dan Cara Mencegahnya

Paparan cuaca panas ekstrem tidak boleh diremehkan karena dapat mengganggu mekanisme regulasi suhu tubuh.

Risiko kesehatan mulai dari dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga heatstroke (sengatan panas) yang fatal sangat mengintai.

Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan mengalami penurunan sistem imun hingga demam mendadak.

Untuk menghadapi cuaca terik ini, Anda dapat menerapkan langkah-langkah perlindungan berikut:

  1. Cukupi Cairan
    Minum minimal 2 liter air putih per hari untuk mencegah dehidrasi.

  2. Hindari Paparan Langsung
    Batasi aktivitas berat di luar ruangan, terutama pada rentang pukul 10.00 hingga 14.00 saat indeks UV sangat tinggi.

  3. Pakai Sunscreen dan Pakaian Pelindung
    Gunakan tabir surya (SPF) yang cukup. Pilih pakaian berbahan ringan, longgar, dan berwarna cerah agar dapat memantulkan panas.

  4. Pertolongan Pertama
    Jika anak mengalami demam akibat cuaca panas, segera berikan kompres air hangat, jaga asupan cairan, dan konsumsi obat penurun panas bila diperlukan.

Tetap waspada, jaga asupan nutrisi, dan jadikan perlindungan diri sebagai prioritas utama di tengah cuaca yang kian ekstrem ini! (*)

*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

Editor : Mizan Ahsani
#global warming #rumah kaca #atmosfer #polusi #bmkg