Jawa Pos Radar Madiun - Bagi sebagian besar masyarakat urban, memulai aktivitas pagi tanpa asupan kafein rasanya seperti ada yang kurang. Kopi menduduki kasta tertinggi sebagai minuman penambah energi utama. Namun, belakangan ini popularitas matcha—teh hijau bubuk khas Jepang—mulai naik daun dan kerap dipilih sebagai alternatif pengganti kopi. Salah satu perdebatan yang paling sering muncul di kalangan penikmat kedua minuman ini adalah mengenai perbandingan kandungan kafein di dalamnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Pembalut Charm yang Anti Bocor saat Malam, Tidur Lebih Tenang ketika Menstruasi
Banyak yang mengira bahwa sebagai sesama minuman stimulan, efek dan kadar kafein yang dihasilkan matcha dan kopi adalah sama. Faktanya, kedua minuman ini memiliki karakteristik, jumlah kandungan, serta mekanisme kerja kafein yang sangat berbeda di dalam tubuh manusia.
Menakar Kadar Kafein: Siapa yang Lebih Tinggi?
Secara umum, jika dihitung dalam takaran porsi standar siap minum (sekitar 240 ml atau satu cangkir), kopi hitam murni masih memimpin dalam hal jumlah kafein. Satu cangkir kopi seduh biasanya mengandung sekitar 95 hingga 200 miligram (mg) kafein, tergantung pada jenis biji kopi (Arabika atau Robusta) dan metode penyeduhannya.
Sementara itu, satu cangkir matcha tradisional yang dibuat dari 1 hingga 2 sendok teh bubuk matcha memiliki kandungan kafein berkisar antara 35 hingga 70 mg. Meski terlihat lebih rendah dari kopi, kadar kafein pada matcha ini sejatinya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan teh hijau celup biasa. Hal ini terjadi karena saat meminum matcha, seseorang mengonsumsi seluruh bagian daun teh yang sudah ditumbuk halus, bukan sekadar air seduhannya saja.
Baca Juga: Kopi: Obat Ampuh atau Pemicu Sakit Kepala? Ini Penjelasan Medis dan Cara Mengatasinya
Jittery Effect vs Calm Alertness: Beda Mekanisme di Tubuh
Perbedaan paling mencolok yang dirasakan oleh tubuh bukan terletak pada angka miligramnya, melainkan pada bagaimana kafein tersebut dilepaskan ke dalam sistem peredaran darah:
-
Kopi (Jittery Effect): Kandungan kafein pada kopi diserap oleh tubuh secara cepat dan instan. Hal ini memberikan lonjakan energi (energy spike) yang cepat dalam waktu singkat setelah diminum. Sisi negatifnya, ketika efek kafein habis, tubuh sering kali mengalami kondisi crash atau penurunan energi secara drastis, yang kadang disertai dengan gejala jantung berdebar atau tangan gemetar (jittery).
-
Matcha (Calm Alertness): Matcha memiliki senjata rahasia bernama L-Teanin (L-theanine), sejenis asam amino unik. L-Teanin bekerja memperlambat penyerapan kafein oleh tubuh, sehingga pelepasan energi terjadi secara bertahap dan stabil selama 4 hingga 6 jam. Hasilnya, peminum matcha akan merasakan sensasi fokus yang tenang, tajam, dan bebas dari efek cemas atau jantung berdebar.
Pilih Matcha atau Kopi?
Menentukan pilihan antara matcha dan kopi sangat bergantung pada kebutuhan dan sensitivitas tubuh masing-masing individu terhadap kafein. Jika Anda memerlukan dorongan energi instan untuk mengusir kantuk berat di pagi hari dan tidak sensitif terhadap asam lambung, kopi adalah pilihan yang efisien.
Baca Juga: Minum Kopi Bikin Mulut jadi Bau? Simak Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasinya!
Namun, bagi Anda yang rentan mengalami kecemasan, memiliki masalah lambung, atau mencari asupan fokus yang tahan lama tanpa efek lemas di siang hari, matcha menjadi alternatif yang jauh lebih ramah bagi tubuh. Kedua minuman ini sama-sama sehat dan kaya akan antioksidan, asalkan dikonsumsi tanpa campuran gula atau pemanis buatan yang berlebihan. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani