Jawa Pos Radar Madiun - Kebiasaan menyalakan kipas angin saat tidur malam kerap dikaitkan dengan ancaman penyakit paru-paru basah. Anggapan yang sudah mengakar di tengah masyarakat ini kerap memicu kekhawatiran. Lantas, benarkah hembusan angin dari perangkat elektronik tersebut bisa merusak organ pernapasan?
Baca Juga: Lewat Program RE3 FOR-E, PNM Berdayakan Ratusan Usaha Laundry Ultra Mikro Nasabah Mekaar
Faktanya, tidur menggunakan kipas angin tidak menyebabkan paru-paru basah. Mengutip data dari Universitas Yarsi, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung mitos tersebut. Efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan kipas angin secara terus-menerus lebih mengarah pada masalah alergi atau asma, yang dipicu oleh debu dan kotoran yang menempel pada baling-baling kipas, bukan penumpukan cairan di paru-paru.
Mengenal Paru-Paru Basah Secara Medis Dalam dunia medis, istilah paru-paru basah sebenarnya merujuk pada kondisi yang disebut efusi pleura. Ini adalah kondisi di mana terjadi penumpukan cairan, namun bukan di dalam paru-paru itu sendiri, melainkan di antara selaput pelapis paru-paru (pleura viseral) dan bagian dalam dinding dada (pleura parietalis).
Kondisi ini berbeda dengan pneumonia. Jika pneumonia adalah peradangan atau infeksi di dalam paru-paru akibat bakteri, virus, atau parasit, efusi pleura murni merupakan penumpukan cairan di sekitar paru-paru yang membuat penderitanya kerap merasakan nyeri dada, sesak napas, hingga kesulitan bernapas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri.
Penyebab Asli dan Faktor Risiko Paru-paru basah umumnya terjadi akibat adanya kerusakan pada alveoli (kantung udara kecil tempat pertukaran oksigen). Ketika fungsi alveoli terganggu, cairan seperti nanah atau darah dapat terkumpul, membuat paru-paru sulit mengembang maksimal. Beberapa kondisi medis serius yang menjadi biang keladi utamanya antara lain:
-
Infeksi Virus dan Sepsis: Virus seperti flu, Covid-19, atau radang paru-paru dapat memicu kondisi ini. Selain itu, sepsis—peradangan hebat akibat infeksi dalam darah—juga berpotensi mengancam nyawa dan memicu cairan berlebih.
-
Cedera Traumatis dan Paparan Kimia: Benturan keras di area dada atau kebiasaan menghirup bahan kimia berbahaya secara tidak sengaja dapat menyebabkan darah atau cairan menumpuk di sekitar paru-paru.
-
Pankreatitis Akut: Peradangan pada pankreas secara mendadak juga bisa merambat dan memunculkan komplikasi pernapasan.
Selain penyebab langsung, terdapat faktor risiko yang memperbesar peluang seseorang terkena paru-paru basah. Kelompok lanjut usia dengan sistem imun yang menurun sangat rentan terhadap kondisi ini. Gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebih juga turut merusak fungsi alveoli. Faktor lainnya meliputi paparan polusi atau zat beracun dalam jangka panjang, serta riwayat operasi pada area paru-paru.
Kapan Harus Segera ke Dokter? Penanganan paru-paru basah berfokus pada pengeluaran cairan berlebih sekaligus mengobati penyakit penyertanya. Jika Anda atau keluarga mengalami gejala khas seperti batuk yang tak kunjung reda, detak jantung berpacu cepat, hingga sesak napas akut, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Tindakan medis yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan. Dokter biasanya meresepkan obat diuretik untuk mengeluarkan cairan tubuh, atau antibiotik jika terdapat infeksi. Untuk kasus penumpukan cairan yang parah, prosedur torakosentesis (pemasangan selang dada) hingga tindakan operasi bedah seperti VATS atau torakotomi mungkin diperlukan untuk menguras cairan dan mengembalikan fungsi pernapasan.
Baca Juga: Specialized Diverge 4 Pro Jadi Patokan Sepeda Gravel Berkualitas, Ini Sederet Fitur Mewahnya
Kini jelas bahwa menyalahkan kipas angin atas penyakit paru-paru basah adalah sebuah kekeliruan. Menjaga kebersihan lingkungan tidur dan menerapkan gaya hidup sehat adalah kunci utama menjaga kesehatan sistem pernapasan Anda
(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani