Jawa Pos Radar Madiun - Belakangan ini, media sosial ramai dengan kampanye gerakan diet Ultra-Processed Food (UPF) Free atau bebas makanan olahan. Tren ini mengajak masyarakat untuk kembali ke pola makan alami dengan menghindari segala bentuk makanan yang telah melewati proses pabrikasi. Niatnya memang baik untuk kesehatan, namun sayangnya, penerapan tren ini di masyarakat sering kali keliru dan berpotensi memunculkan bahaya tersembunyi.
Kekeliruan terbesar dari tren ini adalah anggapan pukul rata bahwa "semua makanan olahan itu buruk dan harus dijauhi". Padahal, ilmu gizi membagi makanan olahan ke dalam beberapa tingkatan, dan tidak semuanya membahayakan tubuh.
Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Magetan, Pemotor Tewas Tabrak Truk Terguling
Berikut adalah beberapa poin penting untuk meluruskan miskonsepsi diet UPF Free agar Anda tidak salah langkah:
1. Bedakan Olahan Sehat dan Ultra-Proses Banyak orang keliru menyamakan makanan yang diproses ringan (minimally processed food) dengan makanan ultra-proses (UPF). Makanan ultra-proses seperti sosis, nugget, mi instan, atau camilan kemasan tinggi gula dan natrium memang sebaiknya dibatasi.
Namun, ada banyak makanan olahan yang prosesnya justru meningkatkan atau mengamankan nilai gizinya. Contohnya adalah yogurt yang melewati proses fermentasi untuk menghasilkan probiotik baik bagi usus, roti gandum utuh, tempe, tahu, hingga susu pasteurisasi. Jika Anda memukul rata dan memusuhi semua makanan olahan, Anda justru akan kehilangan banyak sumber nutrisi penting dan terjangkau.
2. Ancaman Malnutrisi dan Kekurangan Gizi Menghindari seluruh makanan olahan secara ekstrem dapat menyulitkan pemenuhan kebutuhan gizi harian. Masyarakat modern dengan mobilitas tinggi tentu membutuhkan opsi makanan praktis namun tetap sehat. Sayuran beku (frozen vegetables) atau sarden kalengan tanpa saus berlebih, misalnya, adalah makanan olahan yang nutrisinya sering kali masih terkunci dengan baik. Menghindari bahan-bahan ini murni karena label "olahan" justru bisa memicu defisiensi vitamin dan mineral.
3. Memicu Gangguan Makan (Orthorexia) Obsesi berlebihan terhadap makanan yang dianggap 100 persen "bersih" atau alami dapat memicu gangguan makan yang disebut Orthorexia Nervosa. Penderitanya akan merasa stres, cemas, atau bersalah secara berlebihan jika tidak sengaja mengonsumsi makanan yang sudah diproses. Kondisi psikologis ini justru lebih merusak kesehatan secara keseluruhan dibandingkan efek dari memakan sepotong roti gandum.
4. Pentingnya Membaca Label Nutrisi Alih-alih mengikuti tren secara buta dan menghindari semua makanan dalam kemasan, langkah yang lebih bijak dan sejalan dengan pedoman kesehatan adalah membiasakan diri membaca label Informasi Nilai Gizi (ING). Perhatikan komposisi utamanya. Hindari produk dengan daftar bahan kimia sintetis yang terlalu panjang, perisa buatan, serta kandungan gula, garam, dan lemak jenuh yang melebihi batas aman harian.
Baca Juga: Usai Didemo Warga, Tanggul Kritis Sungai Lorok Pacitan Mulai Ditangani
Tren diet di media sosial sering kali disederhanakan tanpa konteks medis yang memadai. Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses (UPF) memang langkah yang tepat, namun memusuhi semua jenis makanan olahan adalah pemahaman yang keliru dan membahayakan gizi. Bersikaplah rasional dalam memilih makanan demi kesehatan jangka panjang.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani