Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sering Bentol Kemerahan Saat Cuaca Sejuk? Waspadai Alergi Dingin, Ini Penjelasan Medisnya

Mizan Ahsani • Jumat, 5 Juni 2026 | 09:14 WIB
Bentol kemerahan akibat alergi dingin. Sumber: Kwangmoozaa / Getty Images
Bentol kemerahan akibat alergi dingin. Sumber: Kwangmoozaa / Getty Images

Jawa Pos Radar Madiun - Udara sejuk atau air dingin mungkin terasa menyegarkan bagi sebagian besar orang.

Namun, bagi sebagian lainnya, suhu rendah justru menjadi pantangan besar yang memicu reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh.

Kondisi medis ini dikenal luas sebagai alergi dingin atau urtikaria dingin.

Alergi dingin ditandai dengan munculnya biduran (bentol kemerahan) dan rasa gatal pada kulit hanya dalam hitungan menit setelah terpapar udara, angin, atau air bersuhu rendah (umumnya di bawah 4°C).

Baca Juga: Sinergi Sempurna Kafein dan Nikotin: Sensasi Nikmat yang Mengancam Nyawa

Pemicu dan Faktor Risiko

Secara medis, paparan suhu dingin memicu sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi karena menganggap suhu tersebut sebagai "bahaya".

Akibatnya, tubuh melepaskan zat kimia bernama histamin ke dalam aliran darah.

Pelepasan histamin inilah yang memicu reaksi peradangan dan bentol-bentol gatal pada kulit.

Meski pemicu pastinya masih terus diteliti, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih berisiko:

Usia dan Genetik
Kelainan ini paling sering dialami oleh anak-anak dan remaja. Selain itu, memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa juga memperbesar risiko.

Kondisi Medis
Mengidap penyakit penyerta seperti hepatitis, kanker, penyakit autoimun, atau baru saja sembuh dari infeksi berat (seperti pneumonia).

Riwayat Alergi Lain
Orang yang sudah memiliki riwayat alergi makanan atau serbuk sari cenderung lebih rentan mengalaminya.

Baca Juga: Bukan Cuma Bikin Rileks, Rutin Minum Air Hangat Setiap Hari Bisa Lancarkan Sistem Pencernaan

Kenali Gejalanya: Dari Ringan hingga Mengancam Nyawa

Gejala alergi dingin bisa bervariasi. Reaksi ini umumnya muncul lebih cepat dan memburuk ketika tubuh berada dalam kondisi cuaca yang berangin dan lembap.

Gejala ringannya meliputi tangan yang mendadak bengkak saat memegang es, bibir terasa tebal setelah minum dingin, hidung tersumbat, hingga nyeri sendi.

Namun, masyarakat harus sangat waspada terhadap gejala parah atau anafilaksis.

Reaksi berbahaya ini biasanya terjadi jika seluruh tubuh terpapar suhu dingin secara tiba-tiba, misalnya saat berenang di air es.

Kondisi tersebut bisa mengancam nyawa dan memerlukan pertolongan darurat di IGD.

Tanda-tandanya meliputi pembengkakan parah pada lidah dan tenggorokan sehingga sulit bernapas, detak jantung berdebar keras, tekanan darah anjlok, hingga kehilangan kesadaran (pingsan).

Baca Juga: Tugas Kelar tapi Mata Susah Merem? Ini Cara Cepat Netralisir Efek Kopi Usai Begadang

Penanganan dan Mitos di Masyarakat

Masih banyak masyarakat yang percaya mitos bahwa alergi dingin terjadi karena fisik seseorang "kurang kuat" menahan cuaca.

Faktanya, ini murni kelainan sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini juga bersifat kronis dan membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk bisa menghilang dengan sendirinya.

Sebagai pertolongan pertama saat alergi kambuh, segera pindahkan penderita ke area yang hangat, longgarkan pakaiannya, dan kompres area kulit yang gatal menggunakan air hangat.

Untuk penanganan medis lanjutan, dokter umumnya akan meresepkan obat antihistamin (seperti cetirizine atau loratadine) untuk menghambat histamin, hingga suntikan epinephrine darurat (EpiPen) untuk kasus syok anafilaksis.

Sebagai langkah pencegahan, pastikan untuk selalu memakai pakaian tebal berlapis dan menjaga kelembapan kulit saat harus beraktivitas di suhu ekstrem. (*)

*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura.

Editor : Mizan Ahsani
#alergi dingin #urtikaria #penyebab alergi #gatal #cuaca dingin