Jawa Pos Radar Madiun - "Ah, cuma sakit gigi biasa, minum obat pereda nyeri juga nanti sembuh sendiri." Pernahkah Anda atau orang terdekat melontarkan kalimat tersebut?
Di masyarakat kita, sakit gigi akibat gigi berlubang sering kali dipandang sebelah mata.
Banyak yang menganggap gigi adalah bagian tubuh yang terisolasi, sehingga kerusakannya tidak akan berdampak pada organ lain.
Padahal, pandangan ini sangat keliru dan berbahaya. Mulut justru merupakan "pintu gerbang" utama menuju organ-organ vital di dalam tubuh Anda.
Ketika sakit gigi dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan medis, Anda tidak hanya menahan nyeri kronis, tetapi juga sedang mempertaruhkan nyawa.
Baca Juga: Bukan Bersih Malah Rusak, Hindari Kesalahan Menyikat Gigi yang Justru Kikis Enamel
Fase Awal: Abses dan Kerusakan Gusi
Masalah bermula dari plak gigi, yaitu sisa makanan manis dan bertepung yang bercampur dengan bakteri.
Plak yang menumpuk akan menghasilkan asam yang mengikis lapisan luar gigi (enamel).
Jika dibiarkan, lubang akan semakin dalam dan menembus rongga pulpa, area di mana saraf dan pembuluh darah berada.
Pada tahap ini, penderita sering kali menyepelekan rasa ngilu yang muncul.
Padahal, bakteri sedang berpesta dan dapat memicu abses (kumpulan nanah) di sekitar gusi.
Abses ini bisa menyebar ke jaringan lunak seperti pipi dan leher, menyebabkan bengkak parah yang mengganggu jalan napas.
Baca Juga: Cokelat Tak Selalu Buruk untuk Gigi Anak? Simak Fakta Medis dan Cara Mencegah Karies
Dampak Krusial pada Organ Vital
Bahaya sesungguhnya terjadi ketika bakteri dari pulpa yang terinfeksi atau gusi yang meradang berhasil menembus masuk ke dalam aliran darah.
Dari sinilah bakteri melakukan "perjalanan mematikan" ke organ-organ vital.
1. Jantung (Endokarditis dan Aterosklerosis)
Saat bakteri dari mulut ikut mengalir bersama darah dan mencapai jantung, mereka dapat menempel pada lapisan dalam jantung atau katup jantung.
Kondisi ini disebut Endokarditis Infektif. Infeksi ini merusak katup jantung sehingga tidak dapat memompa darah dengan baik.
Gejalanya meliputi demam tinggi, kelelahan parah, hingga nyeri dada.
Selain itu, peradangan gusi yang terjadi terus-menerus dapat memicu timbunan plak di dinding pembuluh darah arteri jantung (aterosklerosis).
Sumbatan ini akan menghambat aliran darah, membuat kinerja jantung terganggu, dan berujung pada penyakit jantung koroner.
2. Otak (Risiko Stroke)
Penelitian medis juga membuktikan adanya kaitan erat antara penyakit gigi dan gusi (periodontal) dengan risiko stroke.
Bakteri dari mulut dapat memicu kondisi cerebrovascular ischemia, yaitu suatu keadaan di mana aliran darah yang membawa oksigen ke otak menjadi tidak tercukupi atau terhambat.
Jika aliran darah ke otak tersumbat total, terjadilah stroke yang bisa menyebabkan kelumpuhan hingga kematian.
Baca Juga: Obat Sakit Gigi Alami yang Bisa Meringankan Gejala Nyeri, Dijamin Ampuh!
Jangan Tunggu Parah, Lakukan Pencegahan!
Mengingat betapa krusialnya dampak gigi berlubang bagi organ vital, sudah saatnya kita berhenti menyepelekan kesehatan rongga mulut.
Lakukan langkah-langkah pencegahan sederhana berikut ini.
Sikat Gigi Dua Kali Sehari
Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan pasta gigi ber-fluoride pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
Gunakan Benang Gigi (Flossing)
Sikat gigi saja tidak cukup. Gunakan dental floss untuk mengangkat sisa makanan membandel di sela-sela gigi yang berpotensi menjadi karang gigi.
Batasi Gula
Kurangi konsumsi makanan dan minuman manis serta bertepung yang menjadi "makanan" utama bakteri penghasil asam di mulut.
Rutin ke Dokter Gigi
Jangan pergi ke dokter gigi hanya saat gigi sudah terasa sakit. Lakukan pemeriksaan dan pembersihan karang gigi (scaling) minimal enam bulan sekali.
Kesehatan tubuh Anda secara keseluruhan berawal dari mulut yang bersih. Segera atasi gigi berlubang sebelum bakteri mengambil alih kesehatan jantung dan otak Anda. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani