Jawa Pos Radar Madiun - Susu dan produk olahannya seperti keju dan yoghurt dikenal kaya akan nutrisi penting bagi tubuh.
Namun, bagi sebagian orang, mengonsumsi hidangan ini justru menjadi pemicu masalah pencernaan.
Jika Anda kerap merasakan perut mulas, kembung, atau bahkan diare setelah menikmati produk olahan susu, ada kemungkinan Anda mengalami intoleransi laktosa (lactose intolerant).
Kondisi ini sangat umum terjadi di seluruh dunia. Meski tidak berbahaya, gejalanya bisa sangat mengganggu kenyamanan dan produktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Sering Bentol Kemerahan Saat Cuaca Sejuk? Waspadai Alergi Dingin, Ini Penjelasan Medisnya
Apa Itu Intoleransi Laktosa?
Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan sistem pencernaan untuk memecah dan mencerna laktosa (gula alami di dalam susu) secara sempurna.
Hal ini terjadi karena usus halus tidak memproduksi enzim laktase dalam jumlah yang cukup.
Tanpa adanya enzim laktase, laktosa yang masuk tidak bisa diserap oleh tubuh dan akan terus melaju hingga ke usus besar.
Di sinilah laktosa difermentasi oleh bakteri alami, yang kemudian menghasilkan gas hidrogen, karbon dioksida, dan metana. Proses fermentasi inilah yang memicu berbagai keluhan tidak nyaman pada perut Anda.
Baca Juga: Jangan Dianggap Sepele, Pusing setelah Makan Daging Bisa Jadi Tanda Alergi Serius
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala intoleransi laktosa umumnya muncul dalam kurun waktu 30 menit hingga 2 jam setelah Anda mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Beberapa tanda utamanya meliputi:
Perut terasa kembung, penuh, dan begah.
Kram atau nyeri di area perut.
Sering buang angin (kentut) akibat penumpukan gas.
Diare dengan tekstur feses encer atau berair.
Rasa mual yang terkadang disertai muntah.
Terdengar bunyi gemuruh dari dalam perut (borborygmi).
Baca Juga: Makan Mie Bisa Membuat Perut Mual? Bisa Jadi Anda Alergi Gluten, Kenali Gejalanya
Beda Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu
Banyak orang menyamakan intoleransi laktosa dengan alergi susu sapi, padahal keduanya adalah kondisi medis yang sama sekali berbeda. Berikut adalah perbandingannya:
| Aspek Pembeda | Intoleransi Laktosa | Alergi Susu Sapi |
| Penyebab Utama | Kekurangan enzim laktase untuk memecah gula laktosa. | Reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap protein susu. |
| Sistem yang Diserang | Terbatas hanya pada sistem pencernaan (area usus). | Melibatkan seluruh sistem kekebalan tubuh secara sistemik. |
| Gejala Klinis | Kembung, mulas, diare, dan sering buang angin. | Ruam gatal di kulit, bengkak di wajah atau tenggorokan, hingga sesak napas. |
| Tingkat Bahaya | Mengganggu kenyamanan, tidak mengancam jiwa. | Bisa memicu syok anafilaksis yang mengancam keselamatan jiwa. |
Tips Hidup Nyaman Bebas Gejala
Mengalami intoleransi laktosa bukan berarti Anda harus sepenuhnya memusuhi produk susu. Berikut adalah beberapa strategi diet yang bisa diterapkan agar perut tetap nyaman:
Beralih ke Alternatif Bebas Laktosa
Kini sudah banyak tersedia produk susu lactose-free di pasaran. Anda juga bisa mencoba alternatif susu nabati yang aman seperti susu kedelai, susu almond, atau susu oat.
Coba Porsi Kecil
Yoghurt dan keju bertekstur keras (seperti cheddar atau parmesan) biasanya memiliki kadar laktosa yang lebih rendah berkat proses fermentasi dan pematangan. Cobalah mengonsumsinya dalam porsi kecil terlebih dahulu.
Penuhi Asupan Kalsium Tambahan
Tetap jaga kesehatan tulang dengan memperbanyak konsumsi sumber kalsium non-susu, seperti sayuran berdaun hijau (brokoli, bayam), tahu, dan kacang almond.
Gunakan Suplemen Enzim
Jika Anda terpaksa atau sangat ingin mengonsumsi hidangan bersusu, Anda bisa mengonsumsi suplemen enzim laktase (dalam bentuk tetes atau tablet) sebelum makan untuk membantu tubuh mencerna laktosa.
Baca Juga: Bayi Bunda Alergi Susu Sapi? Ini 5 Susu Soya sebagai Pengganti Terbaik yang Aman dan Bergizi
Jika keluhan mulas dan diare disertai dengan nyeri perut yang sangat hebat, feses berdarah, atau berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas, segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang lebih komprehensif. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura.