Jawa Pos Radar Madiun - Bukan karena tidak tahu risikonya hampir semua remaja yang mulai merokok sudah pernah belajar tentang bahaya rokok di kelas.
Tapi pengetahuan saja ternyata tidak cukup untuk menahan godaan yang datang dari arah yang lebih kuat: lingkaran pertemanan.
Data nasional menunjukkan 16 persen remaja Indonesia pernah mencoba merokok dan sebagian besar memulainya bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena tekanan sosial dari teman sebaya.
Mengapa Remaja Mudah Tergoda Merokok?
Masa remaja adalah fase di mana identitas sedang dibentuk dan penerimaan dari teman sebaya menjadi prioritas psikologis yang sangat kuat.
Ketika merokok dipersepsikan sebagai simbol "keren", "dewasa", atau "berani" dalam satu kelompok pergaulan, penolakan terhadap tindakan tersebut terasa seperti pengucilan dari kelompok.
Di sinilah letak kelemahan pendekatan edukasi berbasis fakta saja ia tidak menyentuh kebutuhan sosial-emosional remaja yang jauh lebih berpengaruh pada pengambilan keputusan mereka.
Baca Juga: Remaja Zaman Sekarang Lebih Banyak Duduk daripada Bergerak dan Tubuh Mereka Mulai Membayar Harganya
Vape dan Rokok Elektrik: Ancaman yang Lebih Sulit Terlihat
Laporan UNICEF Indonesia mencatat bahwa konsumsi vape dan rokok elektrik di kalangan remaja terus meningkat.
Vape sering dianggap "lebih aman" dari rokok konvensional karena tidak ada asap dan aromanya lebih menarik padahal kandungan nikotin dan zat kimia berbahaya di dalamnya sama nyatanya dengan rokok biasa.
Desain produk yang ramping, berwarna-warni, dan beraroma buah menjadikan vape jauh lebih mudah masuk ke kehidupan remaja dibanding rokok konvensional yang lebih mudah diidentifikasi sebagai berbahaya.
Dampak Jangka Panjang yang Dimulai dari Isapan Pertama
Nikotin bekerja sangat kuat pada otak remaja yang masih berkembang jauh lebih kuat dibanding pada orang dewasa.
Ketergantungan nikotin yang terbentuk di masa remaja cenderung jauh lebih sulit diatasi karena otak dalam tahap perkembangan lebih mudah membentuk pola ketergantungan secara permanen.
Selain ketergantungan, paparan nikotin dini juga dikaitkan dengan gangguan perkembangan otak, penurunan kapasitas paru-paru, dan peningkatan risiko penyakit jantung sejak usia muda.
Baca Juga: Anemia pada Remaja Perempuan: Masalah yang Diam-diam Menggerogoti Prestasi Jutaan Siswi Indonesia
Apa yang Lebih Efektif dari Sekadar Peringatan?
Pendekatan yang terbukti lebih efektif adalah membangun keterampilan menolak tekanan teman sebaya sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah.
Ketika remaja merasa cukup percaya diri untuk mengatakan tidak tanpa takut kehilangan teman, angka coba-coba rokok cenderung turun secara organik.
Orang tua yang menjalin komunikasi terbuka tanpa menghukum atau menghakimi lebih berpeluang menjadi rujukan remaja saat menghadapi tekanan dari lingkungan pergaulan. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun