Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kenapa Remaja Perempuan Lebih Banyak Mengalami Depresi? Ini Jawaban Para Ahli

Tim Content Writer Radar Madiun • Senin, 6 Juli 2026 | 10:14 WIB
Ilustrasi Mahasiswa Depresi
Ilustrasi Mahasiswa Depresi

Jawa Pos Radar Madiun - Nilai rapor turun, teman-teman mulai menjauhi, dan di rumah orang tua sedang banyak konflik.

Bagi orang dewasa, mungkin ini terdengar seperti masalah biasa yang bisa dilewati.

Bagi remaja yang sedang dalam fase pembentukan identitas dan sangat bergantung pada validasi lingkungan, kombinasi itu bisa terasa seperti dunia yang runtuh.

Tiga Faktor Utama Penyebab Masalah Mental Remaja

Penelitian yang dihimpun Biofarma mengidentifikasi tekanan akademik sebagai salah satu penyebab dominan gangguan mental remaja di Indonesia.

Sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai dan peringkat menciptakan tekanan yang terus-menerus, sementara banyak remaja tidak pernah diajarkan bagaimana mengelola kegagalan secara sehat.

Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil menambah lapisan stres yang sering kali tidak terlihat oleh guru maupun teman tapi dirasakan sangat nyata oleh remaja yang mengalaminya.

Baca Juga: 16 Persen Remaja Indonesia Sudah Pernah Merokok dan Sebagian Besar Mulai karena Satu Alasan Ini

Bullying: Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Perundungan baik langsung maupun dalam bentuk cyberbullying di media sosial terbukti meninggalkan trauma emosional jangka panjang pada korbannya.

Remaja yang mengalami bullying cenderung mengembangkan rasa percaya diri yang rendah, kecemasan sosial, hingga keengganan untuk hadir di lingkungan sekolah.

Yang membuat penanganannya lebih sulit adalah kenyataan bahwa banyak korban bullying memilih diam karena takut dianggap lemah atau khawatir kondisinya akan semakin buruk jika dilaporkan.

Perbedaan Respons Emosional Laki-Laki dan Perempuan

Remaja perempuan cenderung menginternalisasi tekanan artinya, masalah dirasakan ke dalam dan muncul sebagai depresi, kecemasan, atau perasaan tidak berharga.

Remaja laki-laki sebaliknya lebih sering mengeksternalisasi masalah dalam bentuk perilaku agresif, pelanggaran aturan, atau penarikan diri dari lingkungan sosial.

Perbedaan ini penting dipahami oleh orang tua dan guru agar tidak melewatkan tanda-tanda bahwa seorang remaja sedang berjuang karena caranya menunjukkan perjuangan itu bisa sangat berbeda.

Baca Juga: Anemia pada Remaja Perempuan: Masalah yang Diam-diam Menggerogoti Prestasi Jutaan Siswi Indonesia

Apa yang Benar-benar Dibutuhkan Remaja?

Riset secara konsisten menunjukkan bahwa remaja yang memiliki setidaknya satu orang dewasa yang bisa dipercaya di sekitar mereka memiliki ketahanan mental yang jauh lebih kuat.

Bukan orang dewasa yang selalu punya jawaban atau nasihat tapi orang yang mau mendengar tanpa langsung menghakimi, menyelesaikan, atau membandingkan dengan pengalaman mereka sendiri.

Ruang untuk bercerita tanpa takut dihukum adalah fondasi paling dasar dari kesehatan mental remaja yang sering kali luput dari perhatian. (*)

*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya 

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
#Tekanan Akademik #depresi #remaja