Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sakit Kepala Terus-menerus Tanpa Sebab Fisik? Bisa Jadi Ini Sinyal dari Kesehatan Mentalmu

Tim Content Writer Radar Madiun • Senin, 6 Juli 2026 | 10:18 WIB
Ilusttrasi sakit kepala. (ISTIMEWA)
Ilusttrasi sakit kepala. (ISTIMEWA)

Jawa Pos Radar Madiun - Perutnya selalu sakit sebelum ujian, tapi pemeriksaan dokter tidak menemukan masalah apa pun secara fisik.

Kepalanya sering berdenyut setelah pulang sekolah, tapi setelah libur seminggu semua terasa normal lagi.

Kondisi seperti ini lebih umum dari yang dipikirkan dan dokter kini memahaminya sebagai "somatisasi", yaitu ketika tekanan mental yang tidak terproses akhirnya muncul sebagai keluhan fisik yang nyata.

Ketika Mental Berbicara Lewat Tubuh

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa masalah kesehatan mental remaja yang tidak ditangani dapat memunculkan berbagai keluhan fisik yang terasa nyata: sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, nyeri punggung, serta perasaan tidak bertenaga yang berkelanjutan.

Keluhan ini bukan dibuat-buat atau dilebih-lebihkan ini adalah respons nyata sistem saraf tubuh terhadap tekanan emosional yang belum menemukan saluran yang tepat.

Tanpa memahami kaitan antara fisik dan mental ini, remaja sering mendapat penanganan yang hanya menyentuh gejala bukan akar masalahnya.

Baca Juga: Kenapa Remaja Perempuan Lebih Banyak Mengalami Depresi? Ini Jawaban Para Ahli

Coping Mechanism: Cara Remaja Bertahan

Setiap remaja memiliki cara berbeda untuk menghadapi tekanan dan tidak semua cara itu sehat.

Beberapa melarikan diri ke hiburan digital, sebagian lagi menarik diri dari pergaulan, dan ada pula yang memilih jalur berbahaya seperti menyakiti diri sendiri atau mengonsumsi zat terlarang.

Kementerian Kesehatan mendorong remaja untuk mengembangkan mekanisme coping yang sehat: olahraga, bercerita kepada orang yang dipercaya, menulis jurnal, atau melakukan kegiatan kreatif yang menyalurkan emosi secara positif.

Peran Tubuh yang Aktif dalam Menjaga Mental

Salah satu temuan yang konsisten dalam penelitian kesehatan adalah hubungan dua arah antara kondisi fisik dan mental.

Aktivitas fisik teratur bahkan hanya 20–30 menit berjalan kaki setiap hari terbukti meningkatkan produksi serotonin dan endorfin yang secara langsung membantu menstabilkan suasana hati.

Pola makan yang buruk, kurang tidur, dan minim gerak bukan hanya masalah fisik ketiganya adalah faktor yang secara aktif memperburuk kondisi mental remaja.

Baca Juga: 16 Persen Remaja Indonesia Sudah Pernah Merokok dan Sebagian Besar Mulai karena Satu Alasan Ini

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Tanda-tanda yang memerlukan perhatian segera antara lain: kesedihan yang tidak kunjung membaik lebih dari dua minggu, kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai, serta perubahan pola tidur atau makan yang drastis.

Konsultasi ke psikolog atau psikiater bukan tanda kelemahan ini adalah langkah yang sama rasionalnya dengan pergi ke dokter saat demam tinggi.

Di Indonesia, layanan kesehatan jiwa bisa diakses melalui Puskesmas terdekat dengan Kartu Indonesia Sehat tanpa biaya tambahan. (*)

*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya 

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
#Gejala Fisik #Penaganganan Tepat #kesehatan mental #remaja