Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Media Sosial Bukan Musuh, Tapi Ini yang Membuatnya Berbahaya bagi Otak Remaja

Tim Content Writer Radar Madiun • Senin, 6 Juli 2026 | 10:22 WIB
Ilustrasi main medsos.
Ilustrasi main medsos.

Jawa Pos Radar Madiun - Bangun tidur, buka Instagram. Di kelas, sembunyi-sembunyi cek TikTok. Mau tidur, scroll sekali lagi dan tiba-tiba sudah jam dua pagi.

Rutinitas ini terasa sangat normal bagi mayoritas remaja, tapi penelitian demi penelitian terus menunjukkan kaitan yang semakin kuat antara penggunaan media sosial berlebihan dan meningkatnya kecemasan serta depresi di usia muda.

Bagaimana Media Sosial Memengaruhi Otak Remaja?

Riset Universitas Airlangga yang menganalisis 500 artikel ilmiah menempatkan media sosial sebagai salah satu faktor dominan yang memengaruhi kondisi psikologis remaja Indonesia.

Platform media sosial dirancang dengan mekanisme yang memanfaatkan sistem dopamin otak setiap notifikasi, like, dan komentar baru memicu respons hadiah kecil yang membuat pengguna terus kembali.

Bagi remaja yang otaknya masih dalam tahap perkembangan dan sangat sensitif terhadap respons sosial, siklus ini jauh lebih kuat dan sulit dikendalikan dibanding pada orang dewasa.

Baca Juga: Sakit Kepala Terus-menerus Tanpa Sebab Fisik? Bisa Jadi Ini Sinyal dari Kesehatan Mentalmu

Comparison Trap: Jebakan yang Selalu Ada di Linimasa

Salah satu mekanisme paling berbahaya yang diciptakan media sosial adalah perbandingan sosial yang tidak pernah berhenti.

Konten yang ditampilkan di linimasa selalu merupakan versi paling baik, paling menyenangkan, dan paling menarik dari kehidupan seseorang bukan gambaran nyata kesehariannya.

Otak remaja yang belum sepenuhnya mampu memisahkan "realita media sosial" dari kenyataan cenderung menyimpulkan bahwa kehidupan orang lain memang lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih berharga dari miliknya.

Ketika Like Menentukan Nilai Diri

Fenomena yang semakin mengkhawatirkan adalah ketika remaja mulai mengukur harga diri mereka dari jumlah interaksi yang diterima di media sosial.

Unggahan yang tidak mendapat respons cukup bisa memicu kecemasan nyata, sementara komentar negatif dari orang yang bahkan tidak dikenal bisa berdampak jauh lebih dalam dari yang terlihat dari luar.

Kondisi ini menciptakan ketergantungan akan validasi eksternal yang membuat remaja semakin sulit membangun kepercayaan diri yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Baca Juga: Kenapa Remaja Perempuan Lebih Banyak Mengalami Depresi? Ini Jawaban Para Ahli

Cara Bijak Bermedia Sosial untuk Remaja

Menetapkan batas waktu penggunaan media sosial harian misalnya maksimal dua jam adalah langkah pertama yang bisa langsung diterapkan dengan fitur screen time di ponsel.

Secara aktif memilih konten yang dikonsumsi dengan unfollow atau mute akun yang membuat merasa tidak cukup baik, dan menggantikannya dengan konten edukatif atau positif yang menginspirasi.

Menyisihkan satu jam sebelum tidur tanpa layar apapun bukan hanya untuk kualitas tidur yang lebih baik, tapi juga memberi otak jeda dari aliran informasi dan perbandingan yang tiada henti. (*)

*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya 

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
#media sosial #gangguan mental #remaja