Jawa Pos Radar Madiun - Orang tuanya ada di rumah setiap malam, tapi sang remaja tetap merasa sendirian.
Bukan karena orang tuanya tidak peduli tapi karena selama ini percakapan yang ada selalu tentang nilai, tugas, dan aturan.
Tidak pernah tentang perasaan. Tidak pernah tentang ketakutan. Tidak pernah tentang hal-hal yang sebenarnya paling berat dipikirkan sendirian.
Mengapa Dukungan Keluarga Sangat Menentukan?
Riset yang dihimpun Biofarma menegaskan bahwa kurangnya dukungan keluarga memiliki dampak paling signifikan terhadap kesehatan mental remaja dibanding faktor lain manapun.
Komunikasi terbuka antara orang tua dan remaja bukan sekadar membuat hubungan lebih hangat ini secara langsung membentuk ketahanan psikologis yang menjadi pelindung remaja saat menghadapi tekanan dari luar.
Remaja yang merasa didengarkan dan diterima di rumah terbukti lebih mampu menghadapi tekanan teman sebaya, kegagalan akademik, dan konflik sosial tanpa jatuh ke dalam kondisi mental yang krisis.
Baca Juga: Media Sosial Bukan Musuh, Tapi Ini yang Membuatnya Berbahaya bagi Otak Remaja
Tanda-tanda Remaja yang Perlu Diperhatikan
Penarikan diri yang tiba-tiba dari aktivitas yang dulu disukai adalah sinyal pertama yang paling penting untuk diperhatikan.
Perubahan pola makan, jadwal tidur yang kacau, atau mudah marah tanpa alasan jelas juga bisa menjadi indikasi bahwa ada sesuatu yang sedang dipendam.
Orang tua yang peka terhadap perubahan perilaku kecil seperti ini memiliki peluang lebih besar untuk hadir di saat yang tepat, sebelum kondisi berkembang menjadi krisis yang lebih serius.
Cara Membangun Komunikasi yang Benar-benar Terbuka
Komunikasi yang sehat tidak dimulai dari pertanyaan tentang nilai atau kegiatan sekolah.
Ia dimulai dari kehadiran yang konsisten makan bersama tanpa ponsel, mengantar dan menjemput yang dimanfaatkan untuk mengobrol ringan, atau sekadar duduk berdekatan tanpa tujuan tertentu.
Ketika remaja mulai bercerita, tahan dorongan untuk langsung memberi solusi atau membandingkan dengan pengalaman diri sendiri cukup dengarkan, tanyakan lebih dalam, dan beri tahu bahwa apa yang dirasakan adalah valid.
Baca Juga: Sakit Kepala Terus-menerus Tanpa Sebab Fisik? Bisa Jadi Ini Sinyal dari Kesehatan Mentalmu
Sekolah dan Pemerintah Juga Punya Peran
Kementerian Kesehatan mendorong integrasi layanan kesehatan mental ke dalam lingkungan sekolah sebagai bagian dari program nasional.
Guru BK yang terlatih, akses ke konseling sekolah, dan kebijakan anti-bullying yang ditegakkan secara serius adalah komponen penting yang tidak bisa hanya mengandalkan peran keluarga saja.
Ketahanan mental remaja adalah tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, dan masyarakat dan tidak bisa diserahkan hanya kepada salah satu pihak.
Remaja yang tumbuh dengan dukungan nyata dari orang-orang di sekitarnya tidak hanya lebih sehat secara mental mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih tangguh, lebih empatik, dan lebih siap menghadapi dunia. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun