Jawa Pos Radar Madiun - Kebiasaan begadang sering dianggap sepele, padahal dampaknya jauh lebih dalam dari sekadar rasa kantuk keesokan harinya.
Bagi wanita, kurang tidur secara kronis ternyata bisa mengganggu keseimbangan hormon reproduksi dan berujung pada siklus menstruasi yang tidak teratur.
Fenomena ini bukan mitos belaka, melainkan sudah dibuktikan lewat berbagai penelitian ilmiah yang menjelaskan bagaimana jam tidur berkaitan erat dengan kerja hormon di dalam tubuh.
Kenapa Jam Tidur Bisa Memengaruhi Hormon Reproduksi?
Menurut dr. Boy Abidin, Sp.OG(K), keteraturan siklus haid sangat berkaitan dengan tiga organ utama: otak tepatnya hipotalamus dan hipofisis serta ovarium.
Ia menjelaskan bahwa faktor lingkungan seperti kebiasaan begadang dapat memengaruhi kerja otak dalam mengatur ritme sirkadian.
Yakni jam biologis yang mengontrol kapan tubuh seharusnya tidur dan bangun. Pada malam hari terjadi proses metabolisme hormonal di otak.
Baca Juga: Tudor Watches & Wonders 2026: Tiga Gebrakan Sekaligus yang Bikin Komunitas Jam Tangan Berdecak
Sehingga kebiasaan begadang membuat otak menjadi bingung dalam mengatur produksi hormon-hormon tersebut.
Ritme sirkadian yang terganggu ini kemudian berdampak langsung pada produksi hormon estrogen dan progesteron, dua hormon utama yang berperan mengatur siklus menstruasi. Ketika keseimbangan keduanya terganggu.
Siklus haid bisa menjadi tidak teratur atau bahkan sempat berhenti sementara.
Hormon LH dan FSH Ikut Terganggu
Selain estrogen dan progesteron, kurang tidur juga memeng aruhi produksi hormon luteinizing (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH), dua hormon yang berperan penting dalam proses ovulasi.
Baca Juga: Casio Serius Refresh Lini Standard di Juli 2026: Sapphire Crystal Masuk ke Kelas Terjangkau
Gangguan pada kedua hormon ini bisa membuat proses pelepasan sel telur dari ovarium menjadi tidak konsisten, sehingga wanita yang sering begadang berisiko mengalami gangguan ovulasi.
Dampaknya bukan hanya pada keteraturan siklus, tetapi juga bisa memengaruhi volume darah saat menstruasi.
Ada yang mengalami haid lebih ringan, ada pula yang justru lebih berat dari biasanya.
Peran Hormon Kortisol dalam Memperparah Kondisi
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah lonjakan hormon kortisol, atau yang biasa dikenal sebagai hormon stres.
Saat seseorang memaksakan diri tetap terjaga di malam hari, tubuh melepaskan kortisol dalam jumlah lebih tinggi dari kondisi normal.
Kadar kortisol yang tinggi ini dapat menekan pelepasan hormon GnRH, LH, dan FSH hormon-hormon kunci dalam proses pematangan sel telur.
Baca Juga: G-SHOCK GMA-P2100SG Sunset Glow, Perpaduan Gaya Premium dan Material Ramah Lingkungan
Sebuah penelitian dari Universitas Airlangga terhadap pasien infertilitas yang menjalani program bayi tabung bahkan menemukan hubungan negatif.
Antara kadar kortisol tinggi dengan jumlah folikel dominan yang berkembang, menunjukkan bahwa stres kronis akibat begadang berpotensi menurunkan kualitas kesuburan.
Sejalan dengan itu, sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan di jurnal BMC Women's Health pada 2024 turut menegaskan adanya hubungan negatif antara gangguan tidur dan kesuburan perempuan.
Tinjauan yang meninjau 19 studi tersebut menemukan bahwa kualitas tidur yang buruk maupun durasi tidur yang ekstrem sama-sama berkaitan dengan penurunan potensi kesuburan.
Bukan Cuma Soal Haid, Tapi Juga Berpengaruh ke Kesuburan
Jika dibiarkan berlangsung dalam jangka panjang, gangguan hormonal akibat begadang tidak hanya berhenti pada siklus haid yang tidak teratur.
Baca Juga: Casio Kini Punya Mesin Mechanical Sendiri dan Generasi Ketiga Edifice Ini Adalah Buktinya
Tetapi juga bisa berkembang menjadi anovulasi kondisi di mana ovarium gagal melepaskan sel telur sama sekali.
Kondisi ini pada akhirnya dapat menurunkan peluang kehamilan bagi wanita yang sedang merencanakan momongan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa gangguan tidur dapat memicu disfungsi pada sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad, sistem yang berperan sentral dalam mengatur seluruh hormon reproduksi tubuh.
Cara Sederhana Menjaga Ritme Tidur Tetap Sehat
Untungnya, dampak ini bisa diminimalkan dengan memperbaiki pola tidur secara bertahap.
Beberapa langkah yang bisa dicoba antara lain menjaga waktu tidur yang konsisten setiap malam.
Baca Juga: Rolex Naik Harga Lagi di 2026: Submariner Gold Kini Tembus EUR 47.600
Menghindari kafein dan penggunaan gawai menjelang tidur karena cahaya biru dapat mengganggu produksi melatonin.
Menciptakan suasana kamar yang gelap dan nyaman, serta mengelola stres lewat teknik relaksasi seperti meditasi atau olahraga ringan di siang hari.
Durasi tidur ideal yang disarankan adalah 7-9 jam per malam agar ritme sirkadian dan produksi hormon reproduksi dapat berjalan optimal.
Menjaga jam tidur yang teratur bukan sekadar soal kebugaran fisik semata, melainkan juga langkah penting untuk menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan reproduksi jangka panjang.
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai diagnosis medis. Jika mengalami gangguan siklus haid yang berkepanjangan, sebaiknya berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kandungan. (*)
*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun