Jawa Pos Radar Madiun - Hamparan keanekaragaman hayati di hutan tropis Nusantara rupanya membuka harapan baru di dunia medis.
Berbagai ragam tanaman endemik dari Sumatra, Bangka Belitung, Jawa, Kalimantan, hingga kawasan Indonesia Timur kini menjadi sorotan tajam karena terbukti menyimpan senyawa aktif pembunuh sel kanker.
Selama ini, deretan flora lokal berpotensi tinggi tersebut masih sangat minim sentuhan kajian ilmiah.
Namun, lewat tangan dingin peneliti Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr Ratih Dewi Saputri, kekayaan biodiversitas tanaman tropis ini sukses dibedah untuk dijadikan kandidat obat antikanker masa depan.
"Penelitian ini tidak hanya bertujuan menemukan senyawa baru, tetapi juga membuka peluang lahirnya kandidat obat herbal berbasis tanaman tropis Indonesia yang lebih aman, lebih selektif, dan berpotensi menjadi alternatif terapi kanker di masa depan," kata Dr Ratih Dewi Saputri, Selasa (21/7).
Baca Juga: Jelang HUT ke-81 RI, Dua Anggota Paskibra Kota Madiun Mundur Akibat Sakit dan Cedera
Keajaiban Senyawa Garcinia dan Flemingia
Dalam riset fitokimia yang telah bergulir sejak tahun 2018 ini, fokus utama tertuju pada tanaman dari genus Garcinia (kerabat manggis-manggisan) dan Flemingia.
Melalui proses ekstraksi dan isolasi modern, tanaman-tanaman tersebut terbukti memproduksi senyawa bioaktif penting, khususnya dari golongan flavonoid dan santon (xanthone).
Senyawa alami dari tanaman ini bertindak sebagai tameng antioksidan yang kuat sekaligus memiliki aktivitas sitotoksik (beracun bagi sel kanker).
Beberapa spesies spesifik yang menampakkan hasil paling menjanjikan dalam membunuh sel kanker antara lain:
-
Garcinia celebica
-
Garcinia rigida
-
Garcinia parvifolia
-
Garcinia nigrolineata
-
Garcinia hombroniana
-
Garcinia xanthochymus
Baca Juga: Stok Darah PRC Golongan O dan AB di PMI Magetan Kosong, Warga Diminta Donor
Targetkan Kanker Payudara dan Serviks
Guna memahami seberapa tangguh tanaman-tanaman ini bekerja, tim peneliti membedahnya menggunakan kajian Structure-Activity Relationship (SAR).
Kajian ini memetakan bagaimana struktur molekul dari tanaman tropis tersebut mampu mengganjal radikal bebas serta memblokir pertumbuhan sel-sel jahat di dalam tubuh pasien.
Lebih jauh, tanaman-tanaman ini juga diuji coba menggunakan simulasi komputer canggih (molecular docking in silico) untuk melihat kecocokannya dengan sel target.
"Fokus penelitian selanjutnya diarahkan pada pengembangan kandidat terapi untuk kanker serviks menggunakan sel HeLa dan kanker payudara menggunakan sel 4T1, yang merupakan dua jenis kanker dengan angka kejadian tinggi pada perempuan," ujarnya.
Baca Juga: Drama Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya Lay: Terbang ke Kuala Lumpur Bersama Keluarga?
Angkat Derajat Tanaman Lokal ke Kancah Global
Dedikasi selama lebih dari delapan tahun dalam membedah anatomi dan khasiat tanaman tropis ini telah membuahkan deretan prestasi membanggakan.
Status tanaman lokal Indonesia kini semakin diakui dunia lewat terbitnya berbagai publikasi jurnal internasional bereputasi pada level kuartil dua (Q2) dan kuartil tiga (Q3), buku ber-ISBN, hingga perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Riset berbasis kekayaan alam ini juga menjadi penyokong misi Tridarma Perguruan Tinggi, program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), dan Sustainable Development Goals (SDGs).
Ke depannya, eksplorasi terhadap tanaman-tanaman ajaib ini akan terus dipacu agar bisa segera diproduksi secara masif untuk menolong para pejuang kanker.
"Ke depan, penelitian akan dikembangkan melalui pendekatan Network Pharmacology untuk mempercepat pengembangan kandidat obat berbasis biodiversitas Indonesia," katanya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani