Polusi Udara Ternyata Jadi Pemicu 60 Persen Penyakit, Guru Besar UI Beberkan Organ Tubuh yang Terdampak

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 06:27 WIB
Polusi udara Jakarta. (PEMPROV JAKARTA)
Polusi udara Jakarta. (PEMPROV JAKARTA)

Jawa Pos Radar Madiun - Polusi udara sering kali hanya dikaitkan dengan gangguan pernapasan.

Padahal, paparan polutan dalam jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit yang menyerang hampir seluruh organ tubuh, mulai dari paru-paru hingga otak.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc, mengatakan sekitar 60 persen penyakit memiliki keterkaitan dengan paparan polusi udara.

Pernyataan itu disampaikan dalam acara yang diselenggarakan International Council on Clean Transportation (ICCT) di Jakarta, Selasa (4/8).

"Penyakit terkait polusi udara dari seluruh penyakit itu sekitar 60 persen," katanya, mengutip ANTARA.

Menurut Budi, persentase tersebut jauh lebih besar dibandingkan penyakit yang dipicu oleh persoalan sanitasi maupun kualitas air minum. 

Ia menyebut penyakit yang berkaitan dengan sanitasi, termasuk gangguan saluran pencernaan seperti diare, hanya menyumbang sekitar 15 persen dari keseluruhan kasus penyakit.

"Yang kaitannya dengan sanitasi, kualitas air minum, terus kemudian katakanlah semuanya yang masuk ke saluran cerna ya, diare dan sebagainya, itu cuma 15 persen," ia menambahkan.

Ia menjelaskan, dampak polusi udara umumnya tidak muncul secara instan. Sebagian besar penyakit berkembang akibat paparan polutan yang terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama.

Berbagai zat pencemar seperti sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan.

Baca Juga: Skutik Kalcer! Yamaha Fazzio Special Edition Sunset Blue Resmi Hadir, Segini Harga OTR Madiun-Kediri

Setelah terhirup, polutan tersebut tidak hanya memengaruhi paru-paru, tetapi juga dapat menyebar melalui aliran darah dan berdampak pada berbagai organ.

Adapun organ terdampak itu termasuk kulit, tulang, sistem reproduksi, organ pencernaan, sistem saraf, hingga otak.

"Polusi udara dengan berbagai polutan yang ada di sana macam-macam. Kembali lagi bahwa polutan-polutan tersebut tergantung kita ada di mana," jelasnya.

"Itu semuanya kita masukin dalam tubuh lewat kita bernapas, yang tanpa bisa memilih, tanpa berhenti," imbuh Budi.

Besarnya dampak polusi udara juga tercermin dari tingginya biaya pelayanan kesehatan.

Data BPJS Kesehatan pada 2023 menunjukkan pembiayaan untuk penanganan penyakit pernapasan akibat polusi udara mencapai nilai yang sangat besar.

BPJS Kesehatan mencatat biaya Rp431 miliar untuk penanganan 1,1 juta kasus rawat jalan penyakit pernapasan.

Sementara itu, pembiayaan 1,7 juta kasus rawat inap akibat penyakit pernapasan mencapai sekitar Rp13,3 triliun.

Data tersebut menunjukkan bahwa polusi udara bukan hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga tantangan serius di bidang kesehatan masyarakat.

Karena itu, upaya mengurangi pencemaran udara dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka penyakit sekaligus mengurangi beban biaya kesehatan di Indonesia. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
Sumber : Universitas Indonesia, ANTARA
paru-paru polusi udara otak penyakit jantung