Burnout Bisa Bikin Emosi Mudah Meledak di Media Sosial, Psikolog: Bukan Pembenaran Merundung

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 07:21 WIB
Ilustrasi pekerja alami burnout. (freepik)
Ilustrasi pekerja alami burnout. (freepik)

Jawa Pos Radar Madiun - Kelelahan kerja atau burnout bukan hanya membuat tubuh dan pikiran terkuras.

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan emosi sehingga lebih mudah tersinggung, bersikap sinis, kehilangan empati, hingga bertindak impulsif di media sosial.

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog menjelaskan, tekanan fisik dan mental yang menumpuk dapat menurunkan kontrol seseorang terhadap perilakunya.

Namun, burnout ditegaskan tidak bisa digunakan sebagai pembenaran untuk merugikan maupun merundung orang lain.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul viralnya unggahan Yurizal Tri Chaerawan yang memperlihatkan tenaga kesehatan diduga merundung dirinya di media sosial.

Sebelumnya, Yurizal mengungkapkan keluhannya mengenai lamanya menunggu ketersediaan kamar rawat inap dan kemudian meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

Burnout Bisa Memengaruhi Kemampuan Mengontrol Emosi

Ratih menjelaskan seseorang yang mengalami burnout berada dalam kondisi kelelahan fisik sekaligus mental. Dampaknya dapat terlihat dari perubahan cara merespons situasi maupun berinteraksi dengan orang lain.

"Orang yang mengalami burnout itu sedang mengalami kelelahan fisik dan mental, akibatnya ia dalam kondisi yang mudah tersinggung, sinis, kehilangan empati, dan kemampuan mengendalikan impulsnya menurun," kata Ratih saat dihubungi ANTARA, Jumat (7/8).

Menurut Direktur Personal Growth tersebut, kondisi itu membuat seseorang lebih rentan menulis komentar atau mengunggah konten yang mungkin tidak akan dilakukan ketika emosinya stabil.

Tekanan, frustrasi, dan kelelahan juga dapat mendorong media sosial menjadi tempat untuk melampiaskan emosi.

Baca Juga: Penembakan Sekolah di Thailand: Korban Tewas Kini 7 Orang, Pelaku Diduga Pakai Baju Ungu

Mengenal Online Disinhibition Effect

Dalam psikologi terdapat istilah online disinhibition effect, yakni kondisi ketika seseorang cenderung lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri ketika berada di ruang digital.

Karakter media sosial dapat memperkuat kecenderungan tersebut.

"Media sosial memiliki karakteristik yang membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara bebas, lepas, emosional dibandingkan ketika ia berinteraksi secara langsung," ujarnya.

Perasaan memiliki jarak dengan orang lain, anonimitas, hingga tidak melihat konsekuensi langsung dari sebuah komentar dapat mengurangi kontrol diri.

Akibatnya, seseorang bisa menulis atau mengunggah sesuatu tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pihak lain.

Baca Juga: Konsisten Laksanakan Kelas Ibu Balita, Angka Stunting di Desa Sidorejo Karangjati Sukses Ditekan

Burnout Bukan Alasan Merugikan Orang Lain

Meski dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko perilaku impulsif, Ratih menegaskan burnout tidak menghapus tanggung jawab seseorang. Setiap individu tetap bertanggung jawab terhadap perilakunya, termasuk ketika berinteraksi di media sosial.

"Burnout bukan pembenaran atas perilaku yang merugikan orang lain. Burnout dapat menjadi faktor risiko, tetapi setiap individu tetap memiliki tanggung jawab," katanya.

Penegasan tersebut penting agar persoalan kesehatan psikologis tidak digunakan untuk membenarkan perilaku yang berdampak buruk terhadap orang lain.

Burnout perlu ditangani, sementara tanggung jawab terhadap tindakan tetap melekat pada individu.

Sedang Emosi? Jangan Buru-buru Posting

Ratih menyarankan masyarakat mengenali kondisi emosinya sebelum berinteraksi di media sosial. Ketika tubuh sangat lelah atau emosi sedang tidak stabil, membatasi paparan media sosial dapat menjadi salah satu pilihan.

Menjaga kualitas tidur, mengelola beban kerja, dan memiliki cara sehat untuk melepaskan stres juga dapat membantu mengurangi perilaku impulsif.

Satu langkah sederhana lainnya adalah tidak langsung mengunggah sesuatu ketika sedang marah atau frustrasi.

"Pause before posting," ujarnya.

Menurut Ratih, jeda tersebut dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam. Waktu itu memberi kesempatan bagi emosi untuk mereda sehingga seseorang dapat mempertimbangkan kembali isi unggahan serta konsekuensi yang mungkin ditimbulkannya.

Pada akhirnya, kemampuan mengendalikan diri tetap menjadi bagian penting dalam berinteraksi di ruang digital. Burnout perlu dikenali dan ditangani, tetapi kelelahan bukan alasan untuk mengabaikan empati maupun tanggung jawab terhadap orang lain. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
bahaya impulsif media sosial burnout kesehatan mental