Jawa Pos Radar Madiun - Secangkir kopi hangat di pagi hari memang ampuh mengusir rasa kantuk sekaligus mendongkrak semangat untuk beraktivitas.
Namun, bagi kaum hawa yang telah memasuki fase pascamenopause, rutinitas menyenangkan ini rupanya perlu mendapat perhatian ekstra.
Sebuah studi terbaru dari peneliti Universitas Flinders yang dipublikasikan di jurnal Nutrients membawa ulasan kesehatan yang cukup mengejutkan.
Para akademisi tersebut melaporkan adanya kaitan erat antara kebiasaan meminum kopi dalam porsi tinggi dengan ancaman pengeroposan kerangka tubuh.
Konsumsi berlebih ini diyakini mampu memicu penurunan kepadatan mineral tulang atau Bone Mineral Density (BMD) secara signifikan pada kelompok wanita lanjut usia (lansia).
Kesimpulan ini bukan tanpa dasar, mengingat tim ilmuwan telah mengobservasi pola konsumsi teh dan kopi pada 9.704 wanita.
Seluruh partisipan tersebut berusia 65 tahun ke atas dan dipantau kondisi kesehatannya secara ketat selama 10 tahun berturut-turut.
Selama rentang waktu satu dekade tersebut, peneliti terus mengukur skor BMD peserta pada area leher femur dan pinggul mereka.
Kedua bagian tubuh tersebut menjadi fokus utama karena memiliki risiko paling tinggi untuk mengalami cedera patah tulang saat seseorang terkena osteoporosis.
Berdasarkan laporan New York Post pada Sabtu (5/9), kebiasaan menenggak lebih dari lima cangkir kopi dalam sehari sangat berisiko menurunkan skor BMD.
Beruntung, efek negatif pada kesehatan tulang ini sama sekali tidak terdeteksi pada mereka yang hanya menikmati dua hingga tiga cangkir kopi harian.
Baca Juga: Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun, Menkeu Ungkap Rencana Rute ke Jawa Timur
Teh Bawa Dampak Positif, tapi Ada Syaratnya
Berkebalikan dengan efek kafein, rutinitas menyesap teh justru dikaitkan dengan tingkat kepadatan tulang pinggul total yang jauh lebih tangguh.
Kandungan baik pada teh disinyalir mampu memberikan proteksi tambahan yang memperlambat proses pengeroposan alami pada kalangan lansia.
Fakta menarik lainnya, efek buruk kopi terhadap area leher femur rupanya semakin nyata pada wanita yang juga memiliki riwayat konsumsi alkohol tinggi.
Sementara itu, kaitan positif antara konsumsi teh dan kekuatan tulang justru terlihat paling dominan pada kelompok wanita yang mengalami obesitas.
Ryan Liu, salah satu penulis utama riset ini, menjelaskan bahwa senyawa katekin di dalam teh bertindak layaknya tameng pelindung mikroskopis.
Nutrisi alami tersebut secara aktif membantu mendukung proses pembentukan jaringan tulang baru sekaligus memperlambat laju kerusakannya.
"Sebaliknya, kandungan kafein dalam kopi telah terbukti dalam studi laboratorium mengganggu penyerapan kalsium dan metabolisme tulang, meskipun efek ini kecil dan dapat diimbangi dengan menambahkan susu," kata Liu.
Meski begitu, ia sangat mewanti-wanti agar temuan riset ini tidak lantas disalahartikan sebagai anjuran bebas untuk meminum teh sebanyak-banyaknya.
"Tetapi hasil ini menunjukkan bahwa konsumsi teh dalam jumlah sedang dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mendukung kesehatan tulang dan bahwa asupan kopi yang sangat tinggi mungkin tidak ideal, terutama untuk wanita yang mengonsumsi alkohol," tambahnya.
Baca Juga: Heboh Ratusan Akun UMKM Dibekukan Sepihak oleh TikTok Shop, DPR Turun Tangan
Pandangan Ahli Diet dan Gejala Osteoporosis
Merespons polemik dari laporan medis tersebut, Profesor Adjunkt Nutrisi Universitas New York sekaligus ahli diet terdaftar, Lisa Young, turut angkat bicara.
Ia meminta masyarakat luas, khususnya kaum lansia, untuk mencerna hasil temuan lintas dekade ini secara lebih bijak dan berhati-hati.
“Karena studi ini mengikuti wanita dari waktu ke waktu tanpa menugaskan mereka untuk minum kopi atau teh, studi ini hanya dapat menunjukkan asosiasi, bukan membuktikan bahwa kopi melemahkan tulang atau teh memperkuatnya,” kata Young kepada Fox News Digital.
Young juga secara kritis menyoroti sejumlah variabel pembatas yang mungkin memengaruhi objektivitas dari kesimpulan penelitian tersebut.
Perbedaan gaya hidup antarpaserta serta minimnya fokus studi pada kejadian patah tulang nyata menjadi catatan penting yang perlu dievaluasi di masa mendatang.
Mengutip pedoman medis resmi dari Mayo Clinic, osteoporosis dan hilangnya massa tulang dini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
Kondisi medis ini biasanya baru disadari ketika sang penderita mulai mengeluhkan sakit punggung kronis, penurunan tinggi badan, hingga postur punggung yang menunduk atau membungkuk.
“Intinya bagi masyarakat adalah meyakinkan: Konsumsi kopi dalam jumlah sedang tampaknya baik-baik saja, dan tidak perlu mengganti minuman demi kesehatan tulang Anda,” kata Young.
Sebagai penutup, ia membagikan resep jitu untuk menjaga agar kerangka tubuh tetap kokoh hingga usia senja, alih-alih sekadar menghindari kopi.
“Cara yang paling terbukti untuk melindungi kesehatan tulang tetaplah mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D, tetap aktif secara fisik, dan menghindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan,” tambahnya. (naz)