Jawa Pos Radar Madiun - Paparan abu vulkanik pascaerupsi gunung berapi menyimpan ancaman serius bagi kesehatan saluran pernapasan manusia.
Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital, dr Sondang Ruth Angelia Sirait, memperingatkan bahwa ukuran partikel abu yang sangat kecil membuatnya mudah terhirup hingga ke dasar paru-paru.
Abu vulkanik mengandung partikel tersuspensi atau particulate matter (PM) berukuran mikroskopis, seperti PM10 dan PM2.5.
"Secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan," terang Sondang.
Partikel super halus ini bahkan sanggup menembus saluran napas terkecil atau alveolus, yang berujung pada peradangan hebat serta stres oksidatif.
Baca Juga: Era Keemasan China Runtuh? Nova Widianto Siapkan Kejutan Ganda Campuran di Asian Games 2026
Faktor Penentu dan Kelompok Rentan
Dampak buruk abu vulkanik tidak hanya ditentukan semata-mata oleh ukuran mikroskopis partikelnya.
Tingkat keparahan gejala sangat dipengaruhi oleh konsentrasi abu di udara, durasi paparan, hingga komposisi zat kimia di dalamnya.
Secara jangka pendek, paparan ini memicu iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, sesak napas, hingga gangguan pada mata dan kulit.
Kelompok masyarakat tertentu dituntut jauh lebih waspada karena memiliki tingkat kerentanan fisik yang lebih tinggi.
Mereka adalah anak-anak, kelompok lanjut usia (lansia), serta pasien yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.
Paparan abu vulkanik terbukti dapat memicu dan memperburuk gejala bagi para penderita asma maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Baca Juga: Rilis Oktober 2026, Casio G-Steel GST-W1000 Tampil Mewah dengan Material Baja dan Fitur Pintar
Langkah Pencegahan dan Penanganan Tanggap Darurat
Prinsip utama dalam menghadapi hujan abu vulkanik adalah menekan tingkat paparan seminimal mungkin.
Masyarakat sangat dianjurkan membatasi aktivitas luar ruangan, terutama kegiatan fisik berat yang membuat tarikan napas semakin dalam.
Jika keadaan mendesak Anda untuk keluar rumah atau membersihkan endapan abu, terapkan langkah perlindungan berikut:
1. Gunakan masker respirator berstandar medis seperti tipe KN95 atau N95.
2. Pastikan pemakaian masker menutup area hidung dan mulut dengan sangat rapat tanpa menyisakan celah udara.
3. Perbanyak konsumsi air putih untuk menjaga hidrasi sekaligus meredakan iritasi akibat tenggorokan kering.
4. Bagi penderita penyakit paru kronis, pastikan obat rutin dan inhaler selalu dibawa dan digunakan sesuai anjuran dokter.
Sondang menyebutkan bahwa keluhan kesehatan ini biasanya bersifat sementara dan akan berangsur membaik saat paparan abu dihentikan.
Namun, evaluasi medis mutlak diperlukan apabila keluhan seperti batuk menetap, dada terasa berat, atau napas yang semakin sesak tidak kunjung mereda. (naz)