Jawa Pos Radar Madiun - Penyakit jantung rupanya menjadi salah satu masalah kesehatan yang menyedot anggaran terbesar dalam sistem jaminan kesehatan nasional.
Sepanjang tahun 2025 saja, belasan triliun rupiah uang negara terserap hanya untuk menanggung biaya pengobatan penyakit kardiovaskular tersebut.
Kondisi finansial ini memicu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk segera mengambil langkah strategis guna menyelamatkan keberlanjutan program.
Mereka kini mulai menerapkan skema baru yang disebut sebagai Value-Based Health Care dalam penanganan seluruh pasien jantung.
Pendekatan modern ini tidak lagi sekadar berpatokan pada seberapa banyak volume tindakan atau layanan medis yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
Fokus utama sistem JKN kini dialihkan secara penuh pada kualitas dan hasil akhir perbaikan kesehatan yang benar-benar dirasakan oleh peserta.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihatin Pujowaskito, membeberkan sejumlah fakta mengejutkan terkait tingginya pembiayaan pelayanan JKN secara nasional.
Pada tahun 2025 lalu, total biaya pelayanan JKN secara keseluruhan dilaporkan telah menyentuh angka fantastis, yakni Rp 191,3 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 87,1 persen di antaranya habis terserap khusus untuk membiayai pengobatan rawat di tingkat rumah sakit.
Penyakit jantung tampil sebagai salah satu penyumbang tagihan terbesar dengan jumlah penanganan mencapai lebih dari 29,7 juta kasus.
Negara tercatat harus merogoh kocek hingga Rp 17,35 triliun hanya untuk melunasi biaya pengobatan penyakit jantung peserta JKN.
Merespons hal itu, Prihatin menegaskan bahwa upaya pengendalian faktor risiko harus diperketat sejak pasien berada di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
“Penguatan di FKTP mencakup pengendalian tekanan darah dan gula darah, pemantauan HbA1C, kepatuhan pengobatan, serta pemantauan peserta berisiko tinggi,” ujar Prihatin dalam Media Workshop BPJS Kesehatan di RS Dustira, Cimahi, Rabu (16/9).
Di tingkat rujukan atau rumah sakit, BPJS Kesehatan secara aktif terus mendorong penerapan tata laksana pelayanan yang berorientasi kuat pada mutu.
Beberapa langkah teknis disiapkan, seperti pengambilan keputusan terpadu melalui tim khusus (Heart Team) dan kepatuhan mutlak pada pedoman klinis.
Termasuk juga penerapan pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR) serta prosedur staged revascularization yang lebih efisien dan tepat sasaran.
Indikator keberhasilan rumah sakit kini tidak lagi sekadar mengukur proses administrasi, melainkan murni dari kualitas outcome penyembuhan pasien.
Baca Juga: Kamis Turnamen Bahlil Mini Soccer Zona 6 Dibuka Gus Barra, Persaingan 16 Tim Peserta Kian Sengit
Kesiapan Fasilitas Jantung di Madiun Raya
Strategi penguatan layanan yang berpusat pada hasil ini rupanya juga langsung direspons cepat oleh BPJS Kesehatan Cabang Madiun.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Madiun, Wahyu Dyah Puspitasari, memastikan kesiapan puluhan fasilitas kesehatan di wilayah kerjanya.
Saat ini, tercatat ada 24 rumah sakit mitra di wilayah Madiun Raya yang telah siap memberikan pelayanan keluhan penyakit jantung.
Berikut adalah rincian sebaran fasilitas rumah sakit penyedia layanan jantung di Madiun Raya:
8 Rumah Sakit di wilayah Kota Madiun.
7 Rumah Sakit di wilayah Kabupaten Ponorogo.
4 Rumah Sakit di wilayah Kabupaten Ngawi.
3 Rumah Sakit di wilayah Kabupaten Madiun.
2 Rumah Sakit di wilayah Kabupaten Magetan.
Namun, untuk tindakan medis lanjutan seperti kateterisasi jantung (cathlab), fasilitas yang tersedia di daerah memang diakui masih cukup terbatas.
“Untuk layanan jantung dan cathlab, saat ini ada satu rumah sakit, yakni RS Soedjono. Jika pasien membutuhkan layanan yang belum tersedia di wilayah Madiun, dapat dirujuk ke RS dr Soetomo atau RS Mawardi Solo,” terang Ita sapaan akrabnya.
Selain kesiapan kuratif di hilir, BPJS Kesehatan Cabang Madiun juga terus menggalakkan upaya pencegahan kesehatan dari sektor hulu.
Masyarakat luas diimbau untuk aktif memanfaatkan program skrining riwayat kesehatan yang disediakan secara gratis bagi seluruh peserta JKN.
Skrining ini sangat vital perannya untuk mendeteksi secara dini risiko penyakit berat seperti jantung, hipertensi, diabetes, dan gagal ginjal kronis.
Peserta yang terindikasi memiliki risiko tinggi akan langsung diarahkan untuk mengikuti pemeriksaan medis lanjutan sesuai dengan alur standar pelayanan.
Sementara itu, dari kacamata penyedia layanan medis, transformasi pelayanan jantung berbasis nilai ini mendapat dukungan penuh.
Kepala RS Tingkat II Dustira, Muchlas Fahmi, menilai tingginya animo pasien membuktikan perlunya peningkatan mutu yang konsisten dari waktu ke waktu.
Sebagai gambaran, sejak Januari hingga Agustus 2026, RS Dustira telah menangani 975 pasien cathlab yang seluruhnya menggunakan fasilitas JKN.
“Pelayanan tidak hanya cepat dan tepat, tetapi juga harus aman, bermutu, serta berorientasi pada pasien,” ujarnya memungkasi sesi. (*)
Editor : Mizan Ahsani