Jawa Pos Radar Madiun - Tanaman hanjuang atau yang bernama ilmiah Cordyline fruticosa cukup lama membersamai masyarakat Indonesia.
Selain lama difungsikan sebagai obat karena kaya manfaat untuk kesehatan, hanjuang yang juga sering disebut dengan andong ini juga dipercaya punya nilai lebih.
Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat mengungkapkan, hanjuang dianggap masyarakat Sunda sebagai sawen tulak bala.
Bahkan, nama hanjuang sendiri lekat dengan nilai tanaman tersebut.
Dalam filologi Wangsit Siliwangi (401 Masehi), terdapat kalimat "...ditihangan ku hanjuang", yang dapat diartikan sebagai "menggunakan tiang hanjuang".
Makna hanjuang dalam konteks kalimat tersebut merujuk pada tiang yang berfungsi sebagai penyangga atas bangunan, agar kokoh dan tidak roboh.
Karena itu, menurut BPNB Jawa Barat, hanjuang dianggap oleh masyarakat Sunda sebagai tanaman yang kuat dijadikan pembatas, pagar mengatasi wabah.
Tanaman ini sering dijadikan tanda keberadaan sesuatu, pembatas ruang seperti sawah, ladang, kebun, atau bahkan pagar rumah.
Tanaman hanjuang digunakan sebagai pembatas untuk melindungi penghuni rumah atau pemilik ladang dari penyakit.
Alasan utama mengapa hanjuang begitu dinilai tinggi oleh masyarakat adalah khasiatnya yang memang baik terhadap kesehatan.
Sejak lama masyarakat Sunda memanfaatkan hanjuang untuk mengobati TBC (warga lokal terdahulu menyebutnya dengan batuk cupet), penyakit yang sangat menular dan berbahaya.
Saat ini, berkat kemajuan teknologi dan riset, semakin banyak manfaat hanjuang yang akhirnya dapat diungkap.
Tak hanya mengobati batuk atau bahkan TBC, hanjuang efektif meredakan radang gusi, mengatasi gangguan menstruasi pada perempuan, hingga mengobati ambeien.
Menilik banyaknya manfaat dan tingginya nilai dari hanjuang, sepatutnya, tanaman ini terus dilestarikan sebagai salah satu dari bagian dari kekayaan Indonesia. (naz)
Editor : Mizan Ahsani