Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Terapkan Pembayaran Nontunai di Pasar Sleko

Hengky Ristanto • Minggu, 21 Agustus 2022 | 16:55 WIB
Pembayaran menggunakan QRIS di Pasar Sleko Kota Madiun.
Pembayaran menggunakan QRIS di Pasar Sleko Kota Madiun.

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Madiun mulai memberlakukan digitalisasi pasar. Jumat (19/8) lalu, Pasar Sleko dijadikan pilot project pusat perdagangan tradisional yang menerapkan transaksi pembelian model cashless.


Pembayaran nontunai menggunakan QRIS (quick response code Indonesian standard) itu bertujuan meminimalkan persebaran Covid-19, memudahkan proses transaksi, dan mencegah peredaran uang palsu.


Kepala Disdag Kota Madiun Ansar Rasidi mengatakan, semua pasar kelak bakal menerapkan sistem serupa. Sementara ini, Pasar Sleko menjadi pionirnya. Selanjutnya, bertahap diikuti 18 pasar tradisional lain yang sudah masuk database. ‘’Untuk Pasar Sleko, QRIS diterapkan bagi pedagang di foodcourt dan lantai 2,’’ kata Ansar, Minggu (21/8).


Karena itu, sosialisasi terkait penggunaan QRIS akan terus dilakukan ke seluruh pedagang. Jika pedagangnya berusia lanjut, bisa meminta bantuan anggota keluarga mereka. ‘’Penggunaan QRIS kami lakukan secara bertahap. Harapannya, September atau Oktober kami mulai menontunaikan seluruh pembayaran di pasar,’’ terang mantan kepala dinas perhubungan (dishub) itu.


Menurut Ansar, penggunaan QRIS memiliki banyak keuntungan. Apalagi, saat ini perkembangan ilmu teknologi telah menjadi kebanggaan masyarakat, khususnya anak muda, dalam melakukan transaksi. ‘’Jika sistem itu diaplikasikan dengan baik, ke depan bisa menarik minat kaum milenial untuk berbelanja ke pasar tradisional,’’ harapnya.


Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri Clemen Tratmono Wibowo menyebut bahwa Pasar Sleko menjadi salah satu pasar dari 250 pusat perbelanjaan tradisional di Indonesia yang menjadi proyek percontohan Siap QRIS. ‘’QRIS ini bisa digunakan pedagang kecil. Karena nominalnya di bawah Rp 10 juta. Sehingga dapat mempermudah transaksi,’’ tuturnya.


Sementara, di wilayah kerja BI Kediri tahun ini ada empat pusat perbelanjaan tradisional yang ditunjuk sebagai pasar Siap QRIS. ‘’Kami mendorong pasar lain juga menggunakan QRIS. Jadi, kalau dulu orang mau ngojek itu manual, tapi dengan perkembangan dan perubahan zaman, sekarang banyak ojek online. Akhirnya masyarakat mau nggak mau menggunakan. Sama juga dengan penerapan QRIS ini,’’ paparnya.


Nova, salah seorang pembeli di foodcourt Pasar Sleko, mengaku sistem pembayaran nontunai dengan QRIS mempermudah konsumen bertransaksi. ‘’Biasanya kalau lagi di mal atau pas beli kopi di kedai pakai QRIS. Jadi, kalau pas lagi nggak bawa dompet, lebih gampang pakai QRIS karena lebih simpel,’’ katanya. (her/c1/sat)

Editor : Hengky Ristanto
#Bank Indonesia #bank jatim #kota madiun #qris #pasar sleko #Pemkot Madiun