KOTA, Jawa Pos Radar Madiun - Musim kemarau sempat meresahkan petani di Kota Madiun. Terutama kebutuhan air irigasi untuk lahan pertanian mereka. ‘’Dampak perubahan iklim (DPI) berkaitan dengan kondisi wilayah juga,’’ kata Kabid Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun Wahyu Niken Febrianti, Rabu (14/9).
Menurut dia, Kota Madiun memiliki muka air tanah yang hampir rata di setiap wilayah. Sehingga sebagian petani memanfaatkan pompa untuk menyedot air tanah. Terutama, pompa bertenaga listrik yang lebih kuat. ‘’Seharusnya muka air tanah itu sama, tapi kemampuan pompa diesel kurang dalam sehingga tidak bisa nyedot,” jelasnya.
Bulan lalu, sebut Wahyu, sawah wilayah Rejomulyo sempat kesulitan air. Pun, tidak memiliki saluran irigasi teknis. ‘’Sebenarnya pada musim kemarau saatnya mereka mengistirahatkan tanah dengan tidak ditanami padi. Dapat diganti palawija yang tidak memerlukan banyak air,’’ ungkapnya.
Sebagian besar petani di Kota Madiun memilih pompa listrik submersible (sibel). Namun, dampaknya pada ketersediaan air tanah tidak positif. ‘’Memang tidak ada aturan pengambilan air tanah. Tapi, khawatirnya akan mengganggu ketersediaan air tanah bagi warga lingkungan sekitar. Karena bisa jadi air di permukiman juga tersedot,’’ bebernya. (mg4/c1/sat)
Editor : Hengky Ristanto