KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kenaikan inflasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) benar-benar tidak dianggap sepele oleh Pemkot Madiun. Itu ditunjukkan dengan memperluas cakupan penyaluran subsidi harga sejumlah bahan pokok penting (bapokting).
Setelah Pasar Besar Madiun (PBM), penyaluran subsidi harga bapokting bakal merambah pasar tradisional lainnya seperti Pasar Sleko, Pasar Kawak, dan Pasar Srijaya. ‘’Mulai besok (hari ini, Red), pedagang saya minta untuk menjual bapokting dengan harga kulakan,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi, Selasa (4/10).
Maidi menuturkan, sejumlah bapokting menjadi perhatian lantaran tengah mengalami tren kenaikan harga. Di antaranya, cabai, bawang merah, bawang putih, telur, daging ayam ras, daging sapi, dan minyak goreng. Jika suatu ketika harganya naik signifikan, pedagang bakal disuntik dana subsidi.
Nominal dana subsidi, lanjut Maidi, menyesuaikan selisih harga dari produsen dan harga jual pedagang. ‘’Untuk melindungi pedagang, kami lakukan pemerataan di beberapa pasar tradisional. Pedagang tidak perlu khawatir, kami juga tidak ingin merugikan mereka,’’ paparnya.
Maidi menjelaskan, subsidi yang diberikan pemkot itu untuk menutup biaya distribusi barang dan keuntungan pedagang. Namun, pihaknya meminta mereka tidak mengambil keuntungan di luar kewajaran. ‘’Besaran keuntungan ditentukan pemkot. Telur, misalnya. Harga produsen Rp 20 ribu dan pedagang menjual dengan harga Rp 22 ribu. Kami subsidi Rp 2.000,’’ bebernya.
Pun, Maidi mengaku tak segan memberikan ’’tamparan’’ kepada pedagang yang menjual barang dengan harga mahal meski mereka enggan menerima dana subsidi. Yakni, menggelar operasi pasar dengan komoditas berbanderol harga produsen. ‘’Kalau tidak mau, saya intervensi dengan operasi pasar,’’ tegasnya.
Di sisi lain, dia mewanti-wanti warga berhemat. Sebab, ketersediaan barang yang terus tereduksi lantaran permintaan yang tinggi bakal memicu inflasi. ‘’Khususnya komoditas cabai rawit. Bukan tidak mungkin pasokan berkurang karena petani gagal panen akibat kondisi cuaca,’’ tuturnya. ‘’Masuk musim penghujan, hasil panen cabai rawit pasti kurang baik. Masyarakat harus hemat,’’ imbuhnya.
Pun, Maidi telah menyusun strategi tatkala terjadi persoalan ihwal distribusi maupun pasokan bapokting. Pemkot telah menggandeng sejumlah produsen luar daerah untuk membantu mencukupi kebutuhan barang ketika ketersediaan bahan pangan mulai menipis. ‘’Permintaan dan ketersediaan barang menjadi pemicu kenaikan harga dan inflasi. Ketika stok menipis, langsung kami koneksikan ke produsen lain untuk segera memasok barang,’’ pungkasnya. (ggi/c1/isd)
Editor : Hengky Ristanto